Ekonom: Inflasi mereda, semester II jadi momentum jaga keseimbangan

1 day ago 2
tantangan terbesar Indonesia pada paruh kedua tahun bukan hanya menyoal inflasi, tetapi menjaga stabilitas eksternal di tengah melemahnya surplus perdagangan dan meningkatnya ketidakpastian

Jakarta (ANTARA) - Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian menilai semester II-2026 menjadi momentum untuk menjaga keseimbangan nasional usai tekanan inflasi mereda pada Juli 2026.

Sebagai catatan, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa inflasi tahunan turun menjadi 2,88 persen pada Juli 2026 dari 3,34 persen pada Juni 2026.

“Semester kedua 2026 menjadi periode menjaga keseimbangan. Di satu sisi kita mulai melihat pemulihan aktivitas ekonomi domestik, tetapi di sisi lain kita harus memastikan Indonesia tetap menjadi tujuan investasi portofolio yang kompetitif di tengah ketidakpastian global,” kata Fakhrul di Jakarta, Senin.

Secara umum, Fakhrul berpendapat tantangan terbesar Indonesia pada paruh kedua tahun bukan hanya menyoal inflasi, tetapi menjaga stabilitas eksternal di tengah melemahnya surplus perdagangan dan meningkatnya ketidakpastian global.

“Inflasi yang lebih rendah memberikan ruang yang lebih baik bagi daya beli masyarakat maupun stabilitas ekonomi. Namun kita tidak boleh mengabaikan fakta bahwa neraca perdagangan telah mengalami defisit selama dua bulan berturut-turut, sehingga tekanan terhadap transaksi berjalan dan Balance of Payments masih perlu diantisipasi,” jelas dia.

Ia memperkirakan defisit transaksi berjalan kuartal II 2026 mencapai sekitar 7,7 miliar dolar AS atau sekitar 2,1 persen terhadap produk domestik bruto (PDB), sementara keseluruhan Balance of Payments diperkirakan masih mengalami defisit sekitar 2,6 miliar dolar AS.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pembiayaan eksternal tetap menjadi faktor yang sangat penting dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Menurut Fakhrul, Indonesia perlu mempertahankan daya tarik pasar keuangan domestik terhadap investor global. Pada semester II 2026, Indonesia diperkirakan masih membutuhkan arus masuk modal asing sekitar 11 miliar dolar AS ke pasar obligasi pemerintah agar stabilitas rupiah dan keseimbangan eksternal tetap terjaga.

Di sisi lain, Fakhrul mengingatkan bahwa risiko eksternal masih cukup besar. Pasar global masih mencermati kemungkinan sikap yang lebih ketat dari Federal Reserve apabila tekanan inflasi di Amerika Serikat kembali meningkat.

Meski demikian, Fakhrul menilai fundamental domestik masih memberikan ruang optimisme. Meredanya tekanan harga pangan, membaiknya aktivitas manufaktur, serta meningkatnya kepercayaan dunia usaha menjadi modal yang positif memasuki paruh kedua tahun ini.

“Stabilitas nilai tukar rupiah pada akhirnya akan sangat ditentukan oleh kemampuan kita menjaga kepercayaan investor, baik melalui koordinasi fiskal dan moneter maupun komunikasi kebijakan yang konsisten,” tuturnya.

Baca juga: Ekonom sebut surplus perdagangan RI masih dibayangi impor energi

Baca juga: Ekonom perkirakan inflasi bulanan Juli melambat ke 0,03 persen

Baca juga: Ekonom menilai insentif otomotif dorong produksi EV nasional

Pewarta: Imamatul Silfia
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |