Jakarta (ANTARA) - Persaingan gelar juara Liga Inggris kembali memasuki fase krusial dengan skenario yang tampak akrab bagi publik Emirates Stadium.
Manchester City kini mengambil alih posisi puncak klasemen setelah kemenangan 1-0 atas Burnley pada Kamis dini hari, menempatkan tim asuhan Pep Guardiola di posisi terdepan meskipun kedua tim sama-sama mengoleksi 70 poin.
Secara statistik, Manchester City dan Arsenal saat ini memiliki poin yang sama, 70, dan selisih gol yang identik, +37. Namun, produktivitas gol menjadi pembeda utama. City telah mencetak 66 gol, sementara Arsenal tertahan di angka 63 gol.
Perubahan posisi ini memicu kembali diskusi mengenai kegagalan berulang Arsenal yang telah memimpin klasemen sejak 4 Oktober namun justru tersalip di pekan-pekan terakhir.
Tanda-tanda penurunan performa Arsenal mulai terlihat sejak awal tahun. Januari dibuka dengan hasil imbang melawan Nottingham Forest dan kekalahan kandang dari Manchester United.
Tren negatif berlanjut pada Februari saat melawan tim dasar klasemen, Wolves. Dalam laga tersebut, Arsenal mencatatkan sejarah buruk sebagai tim pemuncak klasemen pertama yang gagal menang setelah sempat unggul dua gol atas tim di zona degradasi, dengan hasil akhir imbang 2-2.
Meskipun sempat menunjukkan tanda-tanda kebangkitan pada Maret dengan menyapu bersih kemenangan liga dan melaju di Liga Champions, kekalahan 0-2 dari Manchester City di final Piala Liga di Wembley menjadi titik balik psikologis. Momentum musim tampak bergeser secara permanen sejak hari itu. Setelah jeda internasional, Arsenal tersingkir dari Piala FA oleh tim divisi dua, Southampton, dengan skor 2-1 di babak perempat final.
Penurunan ini berlanjut ke kompetisi liga sepanjang April. Kekalahan 1-2 dari Bournemouth di kandang menjadi pukulan telak karena hasil itu seharusnya bisa membuat Arsenal unggul 12 poin secara temporer atas City. Situasi diperparah dengan kekalahan 1-2 langsung dari skuad Guardiola saat bertandang ke Etihad Stadium. Satu-satunya hasil yang menahan alarm krisis adalah kemenangan tipis agregat 1-0 atas Sporting Lisbon di perempat final Liga Champions.
Kritik tajam kini mengarah pada pendekatan taktis Mikel Arteta yang dinilai terlalu pragmatis dan defensif. Fans lawan sering melabeli Arsenal sebagai "Set Piece FC" karena ketergantungan mereka pada situasi bola mati.
Arsenal mencatatkan 23 gol dari sepak pojok dan tendangan bebas, yang menyumbang lebih dari sepertiga total gol mereka musim ini. Mereka juga diuntungkan oleh empat gol bunuh diri lawan yang berawal dari tekanan situasi tendangan penjuru.
Sebaliknya, Manchester City hanya mencatatkan 11 gol dari bola mati, menempatkan mereka di peringkat ke-17 liga untuk statistik tersebut. Terdapat perbedaan ideologis yang nyata antara Arteta dan mentornya, Pep Guardiola.
Di saat City tetap setia pada permainan terbuka dan variasi serangan dinamis, Arsenal cenderung membiarkan pertandingan menjadi adu fisik dan struktur pertahanan yang kaku.
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































