Dokter ungkap kaitan kanker serviks dan menopause

4 weeks ago 20

Jakarta (ANTARA) - Kanker serviks disebabkan oleh infeksi persisten akibat human papillomavirus (HPV), yang menyebabkan pembentukan sel abnormal di leher rahim.

Dikutip dari The Hindustan Times, Rabu, beberapa gejala umum kanker serviks meliputi perdarahan vagina, nyeri panggul, dan pembengkakan.

Di sisi lain, menopause menandai akhir dari masa reproduksi seorang wanita dan sering kali disertai dengan ketidakseimbangan hormon serta perubahan fisik.

Baca juga: Kemenkes tegaskan kanker serviks bisa sembuh jika terdeteksi di awal

Dalam sebuah wawancara dengan HT Lifestyle, Dr. Anjali Kumar, Direktur Obstetri dan Ginekologi di CK Birla Hospital, Gurugram, menjelaskan meskipun menopause bukan penyebab langsung kanker serviks, kondisi yang menyertainya dapat menjadi faktor dalam perkembangan dan deteksi kanker serviks.

“Memahami keterkaitan ini membantu meningkatkan kesadaran dan intervensi tepat waktu,” ungkapnya.

Penurunan kadar estrogen selama menopause menyebabkan atrofi vagina dan penipisan epitel serviks. Akibat perubahan ini, leher rahim menjadi lebih sensitif terhadap infeksi, termasuk infeksi HPV yang merupakan penyebab utama kanker serviks.

Baca juga: Perempuan punya hak untuk ambil keputusan skrining kanker serviks

"Gejala kanker serviks, seperti perdarahan tidak normal, bisa tersamarkan oleh gejala menopause yang umum, sehingga menghambat deteksi dan diagnosis dini," jelas Dr. Anjali Kumar.

Faktor risiko gaya hidup dan kesehatan

- Risiko yang meningkat seiring bertambahnya usia: Wanita pascamenopause memiliki sistem imun yang lebih lemah, sehingga sulit untuk melawan infeksi HPV.
- Kebiasaan merokok: Merokok mempercepat perkembangan kanker serviks dengan merusak sel serviks secara fisik serta melemahkan respons imun.
- Penggunaan kontrasepsi jangka panjang: Wanita yang menggunakan pil kontrasepsi dalam jangka waktu lama memiliki risiko sedikit lebih tinggi terkena kanker serviks, bahkan setelah menopause.

Baca juga: Kemenkes gandeng pihak swasta dalam kembangkan skrining kanker serviks

Tips Pencegahan:

Skrining rutin: Wanita pascamenopause harus tetap menjalani tes Pap smear dan HPV. Wanita berusia 65 tahun atau lebih dengan riwayat hasil tes normal dapat berhenti melakukan skrining, tetapi hanya setelah mendapat persetujuan dokter.

Mengenali gejala: Segera konsultasikan ke dokter jika mengalami perdarahan tidak normal, nyeri, atau keputihan yang mencurigakan, bahkan bertahun-tahun setelah menopause.

Gaya hidup sehat: Berhenti merokok, menjaga pola makan sehat, dan mengelola kesehatan secara keseluruhan dapat secara signifikan mengurangi risiko kanker serviks.

Baca juga: Dokter: Kanker serviks jadi penyebab utama kematian pada wanita

Penerjemah: Putri Hanifa
Editor: Siti Zulaikha
Copyright © ANTARA 2025

Read Entire Article
Rakyat news | | | |