Beijing (ANTARA) - Pemerintah China menyebut penerapan aturan baru berupa tarif universal dan tarif timbal balik kepada berbagai negara oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebagai suatu kekeliruan.
"Kami mendesak AS untuk berhenti melakukan hal yang keliru, menyelesaikan permasalahan dagang dengan China maupun negara-negara lain melalui aturan dengan menjunjung kesetaraan, rasa hormat dan prinsip saling menguntungkan," kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Guo Jiakun dalam konferensi pers di Beijing pada Kamis (3/4).
Presiden AS Donald Trump pada Rabu (2/4) dalam acara "Make America Wealthy Again" di Rose Garden, Gedung Putih mengumumkan kombinasi tarif universal setidaknya 10 persen untuk hampir semua barang yang masuk ke AS dan tarif timbal balik yang lebih tinggi lagi bagi puluhan negara yang memiliki defisit perdagangan tertinggi dengan AS.
Importir barang dari negara lain akan mulai membayar tarif dasar 10 persen pada Sabtu (5/4) pukul 00.01 waktu setempat.
Sedangkan sekitar 60 negara, yang oleh pejabat senior pemerintahan Trump disebut sebagai "pelanggar terburuk," akan dikenakan tarif setengah dari tarif yang mereka kenakan kepada AS mulai 9 April 2025 pukul 00.01 waktu setempat.
Besaran tarif timbal balik untuk negara-negara tersebut antara lain adalah Jepang sebesar 24 persen, Vietnam sebesar 46 persen, Thailand 36 persen, Indonesia 32 persen, Malaysia 24 persen, China 34 persen, Kamboja 49 persen, Korea Selatan 25 persen, Inggris 10 persen, India 26 persen, Afrika Selatan 30 persen.
"AS mengumumkan kenaikan tarif pada impor dari banyak negara, termasuk China, dengan dalih timbal balik. Ini sangat melanggar aturan WTO, dan merusak sistem perdagangan multilateral berbasis aturan," tambah Guo Jiakun.
China, kata Guo Jiakun, dengan tegas menolak ini dan akan melakukan apa pun yang diperlukan untuk mempertahankan hak dan kepentingan sah negara tersebut.
"Kami telah menekankan lebih dari sekali bahwa perang dagang dan tarif tidak memiliki pemenang. Proteksionisme tidak akan menghasilkan apa-apa," tegas Guo Jiakun.
Kenaikan tarif sepihak AS itu, menurut Guo Jiakun, merusak kepentingan bersama rakyat semua negara dan tidak membantu menyelesaikan masalahnya sendiri.
"Jelas bahwa semakin banyak negara yang menentang kenaikan tarif AS dan tindakan intimidasi sepihak lainnya," tegas Guo Jiakun.
Trump mengatakan tarif tersebut bertujuan untuk menciptakan lebih banyak lapangan kerja di dalam negeri.
Trump menyebut hari pengumuman itu sebagai "Hari Pembebasan" bagi negaranya. Ia dan para menterinya berpendapat bahwa AS telah "dirugikan" oleh banyak negara akibat praktik perdagangan yang dianggap tidak adil.
Sebelumnya, Trump juga sudah mengenakan tarif tambahan 25 persen untuk mobil yang diproduksi di luar AS mulai 3 April 2025 serta tarif 25 persen pada seluruh impor baja dan aluminium.
Pemerintahan Trump pun telah mengenakan bea tambahan sebesar 20 persen terhadap barang-barang asal China.
Para pakar menyebut pemberlakuan kebijakan tarif oleh Trump, maka berpotensi membuat produk mereka lebih mahal dan kurang kompetitif.
Selain itu, tarif dapat menciptakan ketidakpastian dalam lingkungan bisnis, membuat perusahaan ragu untuk berinvestasi atau berekspansi, terutama jika mereka takut akan pembalasan dari negara lain.
Baca juga: RI menyiapkan langkah strategis respons kebijakan tarif resiprokal AS
Baca juga: China ancam tindakan balasan, Korsel minta negosiasi soal tarif AS
Pewarta: Desca Lidya Natalia
Editor: Arie Novarina
Copyright © ANTARA 2025