Tokyo (ANTARA) -
Bank of Japan (BOJ), Jumat, mempertahankan suku bunga acuan di sekitar 1,0 persen setelah menaikkannya ke level tertinggi dalam 31 tahun pada bulan lalu.
Pada saat yang sama, bank sentral Jepang tersebut merevisi naik proyeksi pertumbuhan ekonomi untuk tahun fiskal 2026 yang dimulai pada April, meskipun ketegangan di Timur Tengah masih berlangsung.
Setelah rapat kebijakan moneter selama dua hari, bank sentral menyatakan akan terus menaikkan suku bunga untuk mencapai target inflasi dua persen secara berkelanjutan.
BOJ menegaskan bahwa waktu dan laju kenaikan suku bunga akan disesuaikan dengan mencermati perkembangan di Timur Tengah, peningkatan permintaan terkait kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), serta perkembangan nilai tukar.
Dalam laporan prospek ekonomi triwulanan terbarunya, BOJ memperkirakan ekonomi Jepang tumbuh 0,6 persen pada tahun fiskal 2026, lebih tinggi dibandingkan proyeksi sebelumnya sebesar 0,5 persen.
BOJ menyatakan bahwa meskipun konflik Amerika Serikat-Iran diperkirakan membebani aktivitas ekonomi pada tahun fiskal 2026, perekonomian tetap akan ditopang sejumlah faktor, termasuk meningkatnya permintaan global terhadap teknologi AI.
Untuk tahun fiskal 2027, bank sentral menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi menjadi 0,8 persen dari sebelumnya 0,7 persen.
BOJ menilai dampak negatif tingginya harga minyak mentah akan berkurang dan “siklus positif dari pendapatan ke belanja akan semakin menguat secara bertahap.”
Harga konsumen inti, yang tidak memasukkan komponen pangan segar yang bergejolak, diperkirakan meningkat 2,5 persen pada tahun fiskal 2026, lebih rendah dibandingkan proyeksi 2,8 persen yang dirilis pada April.
Dengan dunia usaha berlanjut meneruskan kenaikan upah ke harga jual, ditambah tingginya harga minyak mentah dan melemahnya nilai tukar yen, BOJ memperkirakan indeks harga konsumen akan “meningkat hingga berada jauh di atas dua persen mulai paruh kedua tahun fiskal 2026.”
“Mengenai inflasi inti indeks harga konsumen (CPI), terdapat risiko bahwa inflasi akan menyimpang ke atas hingga berada di atas target stabilitas harga sebesar dua persen,” demikian tertulis dalam laporan tersebut.
Dari sembilan anggota Dewan Kebijakan BOJ, Hajime Takata menjadi satu-satunya yang menolak keputusan mempertahankan suku bunga jangka pendek utama.
Dia mengusulkan kenaikan suku bunga menjadi sekitar 1,25 persen dengan alasan perlunya merespons risiko kenaikan inflasi.
Sumber: Kyodo
Baca juga: Jepang: RCEP perlu diperkuat atasi tantangan perdagangan regional
Baca juga: Jepang dorong dunia usaha optimalkan investasi modal, peningkatan upah
Penerjemah: Primayanti
Editor: Rahmad Nasution
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































