Barantin: Ekspor makaka khusus penelitian dan dengan ketentuan ketat

5 hours ago 1

Bandarlampung (ANTARA) - Kepala Badan Karantina Indonesia (Barantin) Abdul Kadir Karding mengatakan bahwa ekspor makaka atau monyet ekor panjang dari Lampung yang dikhususkan untuk kebutuhan penelitian, dilakukan dengan ketentuan ketat.

"Jadi hari ini kita meresmikan instalasi pengembangan makaka atau monyet ekor panjang. Dan sekarang ini yang boleh mengekspor makaka baru tujuan Amerika, serta tujuan ekspor ini hanya untuk penelitian, tidak boleh ditangkap di hutan tapi harus dibudidaya dengan standar tertentu," ujar Kepala Badan Karantina Indonesia Abdul Kadir Karding di Bandarlampung, Jumat.

Ia melanjutkan dalam pelaksanaannya tidak sembarangan orang dapat menangkap serta mengekspor makaka. Serta dalam pembudidayaanya makaka yang siap ekspor harus di dalam kandang instalasi selama dua tahun, memiliki syarat fisik sehat, tidak membawa penyakit dan seluruh prosesnya juga diawasi oleh banyak pihak.

"Pembangunan instalasi budidaya ini ada di Kabupaten Mesuji, itu karena potensinya ada disana dan tidak semua tempat ada budidaya ini. Hanya ada di Lampung, Sulawesi dan Kepulauan Seribu. Dan ekspor makaka ini khusus untuk penelitian, tidak boleh untuk konsumsi," katanya.

Dia menjelaskan pengembangan budidaya makaka dilakukan, sebab satwa tersebut cukup banyak populasinya, serta menjadi hama karena konsumsi pakannya cukup banyak. Kegiatan ekspor tersebut pun tidak dilakukan sembarangan, namun dengan proses yang ketat serta membutuhkan izin dari berbagai pihak.

"Mengeluarkan ini tidak sembarangan, sebab ada rekomendasi dari BRIN terkait berapa ekor yang boleh dikeluarkan, dan dikirim. Lalu ada rekomendasi dari Kementerian Kehutanan untuk menentukan jenis yang boleh dikembangbiakkan. Jadi tidak sembarangan, memang prosedurnya agak rumit, tapi ini jadi jalan keluar mengurangi potensi hama dan ada dampak ekonominya juga," ucap dia.

Kemudian makaka atau monyet ekor panjang dipilih sebagai objek penelitian, sebab makaka memiliki struktur anatomi serta sel yang mirip dengan babi dan menyerupai dengan manusia.

"Organnya ada kemiripan dengan babi dan manusia, jadi bisa dipakai untuk penelitian. Namun untuk pasar Amerika masih kecil, yang membutuhkan banyak adalah pasar China, dan sekarang masih proses negosiasi terkait persyaratan yang harus dipenuhi," katanya.

Baca juga: Makaka sambangi perumahan mewah Pluit karena tergiur makanan manusia

Baca juga: Konservasi dorong kenaikan populasi monyet makaka di China Barat Daya

Ia menjelaskan, potensi di pasar China itu sekitar 20 ribu ekor per tahun, sementara potensi di Amerika 10 ribu ekor per tahun.

"Harganya bisa sampai di atas Rp10 juta. Ini hanya boleh untuk penelitian dan ada kerjasama antar negara untuk penelitian ini," tambahnya.

Tanggapan tambahan dikatakan oleh Direktur Biomedikal Nusantara Reki Chandra yang mengatakan, makaka atau monyet ekor panjang yang diekspor dari Lampung tercatat per tahun ada sebanyak 1.000 ekor, dan filial 1 (F1) atau generasi turunan pertama berasal dari tangkapan alam dari Kabupaten Mesuji, Tulang Bawang dan Tulang Bawang Barat, dan bukan dari kawasan hutan.

Menurut dia, kebanyakan generasi pertama makaka yang dikembang biakkan berasal dari monyet hasil interaksi negatif dengan masyarakat.

"Kebanyakan ini menyerang masyarakat, kemudian mereka ini karena jumlahnya sangat banyak jadi potensi hama, karena kebutuhan makanan tinggi sehingga mereka disiksa atau diracun masyarakat. Dan kehadiran perusahaan menyelamatkan monyet-monyet ini agar tidak ada konflik antara manusia dan hewan.

Ia menjelaskan luasan instalasi pengembangbiakan makaka di Mesuji memiliki luas sekitar 4,9 hektare, dengan kapasitas hingga empat ribu ekor, dan sekarang ada 804 ekor yang dikembangbiakkan.

"Peluang ekonomi pengembangan makaka ini tinggi, karena kebutuhan di luar negeri itu tinggi. Dan yang membayar atau membeli dari lembaga riset, serta harga jualnya pun cukup tinggi, tergantung dengan kriteria monyet dan usianya. Jadi Harga sekitar 3.000-4.000 dolar AS per ekor," kata dia.

Baca juga: BRIN bangun fasilitas riset pengujian praklinis untuk hewan makaka

Baca juga: Vaksin Merah Putih Unair masuki uji praklinik gunakan hewan makaka

Pewarta: Ruth Intan Sozometa Kanafi
Editor: Budhi Santoso
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |