Jakarta (ANTARA) - Direktur Utama PT Bank QNB Indonesia Tbk Nick Groene menyatakan, pihaknya mencatatkan pertumbuhan aset sebesar 3 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) dari Rp12,9 triliun pada 2024 menjadi Rp13,2 triliun pada 2025.
Ia mengatakan, capaian tersebut menunjukkan bahwa perseroan mampu menjaga pertumbuhan yang disiplin dengan memastikan kualitas aset dan likuiditas tetap kuat di tengah ketidakpastian ekonomi global dan domestik.
“Kinerja bank di 2025 mencerminkan ketangguhan model bisnis kami serta kemajuan yang telah dicapai dalam memperkuat fundamental bank,” ucap Nick Groene dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Sabtu.
Ia menuturkan, per 31 Desember 2025, perseroan mencatatkan pertumbuhan kredit bersih sebesar 18 persen yoy, jauh melampaui rata-rata pertumbuhan kredit industri perbankan nasional yang menurut Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tercatat sekitar 9,6 persen yoy.
Ia menyatakan, pertumbuhan tersebut utamanya didorong oleh sektor informasi dan komunikasi, manufaktur, serta layanan keuangan dan asuransi, menunjukkan komitmen perseroan dalam mendukung sektor-sektor strategis nasional.
Sejalan dengan komitmen terhadap keuangan berkelanjutan, Nick menyampaikan bahwa pihaknya juga berhasil menyalurkan kredit berbasis ESG pertama mereka, sehingga menjadi tonggak penting bagi perusahaan dalam mendukung praktik bisnis yang bertanggung jawab dan berkelanjutan di Indonesia.
Selain pertumbuhan kredit yang kuat, pihaknya juga membukukan laba sebelum pajak sebesar Rp50,8 miliar serta mencatatkan pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) yang cukup tinggi mencapai 11 persen yoy.
Sementara itu, rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) bruto menurun menjadi 2,2 persen dari 2,7 persen tahun lalu, diikuti dengan penurunan provisi yang menunjukkan pengelolaan kualitas aset yang efektif dan penerapan prinsip kehati-hatian terhadap manajemen risiko.
Kinerja positif tersebut mendukung perseroan untuk mempertahankan posisi permodalan dan likuiditas yang kuat, terlihat dari Liquidity Coverage Ratio (LCR) dan Net Stable Funding Ratio (NSFR) yang masing-masing mencapai 119,95 persen dan 140,40 persen, di atas batas minimum regulator sebesar 100 persen.
Nick menuturkan, perusahaan akan fokus pada pengembangan lini bisnis perbankan korporasi dan institusional, serta terus memperkuat kapabilitas digital dan operasional pada tahun ini.
Pengembangan infrastruktur digital, pemanfaatan jaringan regional QNB Group, serta pendalaman hubungan dengan nasabah korporasi tier-1 dan klien konglomerasi akan menjadi prioritas perseroan.
“Di 2026, kami akan terus menggali kesempatan untuk mendukung lebih banyak peluang perdagangan dan investasi lintas negara. Didukung fundamental yang kuat dan arah strategi yang semakin jelas, kami optimistis dapat menangkap peluang pertumbuhan dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian dalam mengelola risiko,” ujarnya.
Pewarta: Uyu Septiyati Liman
Editor: Abdul Hakim Muhiddin
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































