Bandung (ANTARA) - Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bandung, Jawa Barat, menekankan pentingnya pemilahan sampah sejak dari sumber sebagai langkah mendukung pengelolaan sampah berkelanjutan, termasuk pemanfaatan teknologi pengolahan Refuse Derived Fuel (RDF).
Kepala Bidang DLH Kabupaten Bandung Abdul Wahid Fauzy di Bandung, Sabtu, mengatakan pemilahan sampah menjadi kunci dalam mengatasi persoalan pengelolaan sampah, sebab sampah yang tercampur akan menyulitkan proses pengolahan lebih lanjut.
“Persoalan terbesar kami di DLH itu adalah ketika pengangkutan pun masih diterima sampah campur. Sebetulnya musuh terbesar kami itu adalah sampah campur,” katanya.
Ia menjelaskan sampah yang telah dipilah sejak awal akan lebih mudah dikelola, baik untuk dimanfaatkan kembali maupun diolah menjadi sumber energi melalui teknologi yang sedang dikembangkan.
Baca juga: Pemkot Bandung minta ASN jadi garda terdepan penanganan sampah
Menurut dia, DLH Kabupaten Bandung saat ini mengembangkan pemanfaatan mesin RDF dengan pendampingan Bank Dunia. Namun teknologi tersebut membutuhkan sampah dengan kondisi tertentu agar dapat berjalan optimal.
“Mesin RDF itu kalau sampah campur seperti ini tidak mungkin dilakukan,” ujarnya.
Ia menyebut pemilahan sampah juga menjadi bagian dari persiapan pengelolaan sampah regional ke depan, termasuk mendukung kesiapan TPAS Legok Nangka yang masih dalam proses.
“Sampah-sampah yang diperlukan untuk kebutuhan itu sebetulnya sampah anorganik kering yang memang sudah terpilah dari awal,” katanya.
Terlebih, kata dia, dari total timbulan sekitar 1.600 ton sampah per hari di Kabupaten Bandung, sekitar 320 ton diantaranya diperkirakan menjadi residu apabila mengacu pada perhitungan DLH bahwa sekitar 20 persen sampah tidak dapat dimanfaatkan kembali.
Baca juga: KLH percepat pembangunan pengolahan sampah jadi energi di Bandung Raya
Adapun data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), timbulan sampah di Kabupaten Bandung mencapai sekitar 1.600 ton per hari dengan komposisi didominasi sampah organik sekitar 50 persen, disusul sampah plastik sekitar 17 persen.
“Dari sampah yang ada, 20 persen pasti itu residu. Dan residu itu apabila dari awal sudah terkelola juga akan bisa dimanfaatkan,” ujarnya.
Ia mencontohkan sampah organik yang dikelola melalui Rumah Tempa dapat dimanfaatkan sebagai bahan penutup dalam proses pengelolaan sampah di tempat pemrosesan akhir.
DLH Kabupaten Bandung berharap masyarakat dapat membangun kesadaran bersama dengan pemerintah untuk memastikan sampah yang keluar dari rumah sudah dipilah, sehingga proses pengolahan dapat berjalan lebih efektif.
Baca juga: Mendiktisaintek libatkan mahasiswa KKN tangani sampah di Kota Bandung
Pewarta: Ilham Nugraha
Editor: Risbiani Fardaniah
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































