Atasi DBD, Pemkot Jakbar perluas implementasi Wolbachia ke Cengkareng

5 hours ago 3

Jakarta (ANTARA) - Pemerintah Kota Jakarta Barat (Pemkot Jakbar) melalui Suku Dinas (Sudin) Kesehatan kembali melakukan upaya penanggulangan demam berdarah dengue (DBD) dengan metode Wolbachia di wilayah Kecamatan Cengkareng, Jumat.

Upaya tersebut dilakukan menyusul Jakarta Barat yang menempati peringkat ketiga tertinggi kasus DBD di Provinsi DKI Jakarta.

Kepala Sudin Kesehatan Jakarta Barat Sahruna mengatakan berdasarkan laporan hingga 20 Agustus 2026, Incident Rate (IR) atau angka kasus mencapai 62,3 per 100.000 penduduk dengan total sebanyak 1.591 kasus.

"Jakarta Barat berada di peringkat ke tiga se Provinsi DKI Jakarta," katanya saat dikonfirmasi di Jakarta, Jumat.

Sahruna mengatakan penanggulangan DBD dengan metode Wolbachia di Cengkareng dilakukan lantaran wilayah tersebut tercatat jumlah kasus terbanyak se-Jakarta Barat, dengan IR sebesar 96,7 dan jumlah kasus sebanyak 563.

"Khusus Kelurahan Kapuk IR dan jumlah kasus terbanyak di Jakarta Barat, yakni IR 133,6 dan jumlah kasus 234. Ini cukup tinggi, khususnya di Kecamatan Cengkareng," kata Sahruna.

Oleh karena itu, Sudin Kesehatan memilih Kecamatan Cengkareng menjadi implementasi kedua program Wolbachia di Jakarta Barat, setelah Kecamatan Kembangan.

Baca juga: 1.156 ember isi bibit nyamuk Wolbachia disebar di Srengseng

Sahruna menyebut, adanya implementasi program Wolbachia di Kecamatan Kembangan telah dirasakan memberikan dampak penurunan kasus DBD. Kecamatan Kembangan pun kini menyandang status sebagai kecamatan dengan IR terendah sejauh ini di Jakarta Barat.

Implementasi program Wolbachia di Cengkareng diresmikan dengan penyerahan benih nyamuk Wolbachia kepada orang tua asuh (OTA), didampingi masing-masing lurah se-Kecamatan Cengkareng.

Program ini diharapkan bisa memberikan hasil lebih cepat, kendati idealnya membutuhkan waktu sekitar dua tahun untuk bisa optimal.

"Belajar dari Kecamatan Kembangan, butuh waktu dua tahun untuk sampai menjadi bagus hasilnya. Kami juga berharap jangan sampai dua tahun, mudah-mudahan setahun sudah bisa ada hasilnya,” ujar Sahruna.

Sementara itu, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Dinas Kesehatan DKI Jakarta Sri Puji Wahyuni mengatakan metode Wolbachia merupakan salah satu upaya mencegah penyebaran DBD. Ia menekankan pentingnya melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN).

“Ini salah satu upaya untuk pencegahan DBD di samping upaya-upaya lain yang tidak boleh dilupakan yaitu PSN. Jadi PSN harus tetap secara rutin dan konsisten, istiqomah dilaksanakan,” katanya.

Ia juga meminta PSN menyasar lahan-lahan kosong di wilayah yang bisa menjadi lokasi indukan untuk nyamuk demam berdarah.

“Jadi ini kegiatan yang sinergis, dan mohon bantuan dari semua pihak baik masyarakat, kemudian media masa dan lintas sektor lainnya untuk sama-sama kita bergerak. Agar DKI Jakarta bebas dari DBD dan cita-cita kami di 2030 itu kematian DBD adalah nol,” ujar Sri.

Baca juga: Penerapan Wolbachia mulai berdampak pada penurunan DBD di Kembangan

Baca juga: Ini tren kasus DBD di Jakarta Barat tiga bulan terakhir

Pewarta: Redemptus Elyonai Risky Syukur
Editor: Ade irma Junida
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |