Alokasi cukup dalam tarikan "Saparan Tumpeng Jongko Ingkung Sewu"

1 week ago 11

Magelang (ANTARA) - Dengan bisik-bisik, seorang tokoh Komunitas Lima Gunung Kabupaten Magelang, budayawan Sutanto Mendut (71) menyampaikan bahwa pelepasan ayam dalam tradisi "Saparan Tumpeng Jongko Ingkung Sewu" warga Gunung Andong, pertanda mereka memperkuat kesadaran pentingnya memelihara ayam.

Warga kawasan Gunung Andong di Dusun Mantran Wetan, Desa Girirejo, Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, menggelar tradisi mertidesa yang turun-temurun berdasarkan kalender Jawa jatuh setiap Rabu Pahing Bulan Safar. Umumnya, masyarakat menyebut sebagai "Saparan".

Tahun ini, "Saparan" mereka bertepatan dengan Rabu (29/7), sedangkan rangkaian acara secara luwes tidak hanya sehari. Hal itu bertautan dengan pementasan kesenian dan kemeriahan dusun karena kehadiran sanak keluarga, kerabat, serta relasi warga yang tidak hanya sekampung, namun juga dengan luar dusun.

Rangkaian "Saparan" mereka tahun ini, 29 Juli hingga 1 Agustus 2026, dengan acara wajib kenduri dan pementasan tarian "Jaran Kepang Papat", dilanjutkan pementasan wayang kulit dan sejumlah kesenian tradisional, antara lain Kuda Lumping, Menak Koncer, Warok, Soreng, dan Campursari.

Kenduri dipimpin ulama setempat Muhammad Thohir (57), pergelaran wayang kulit dengan dalang berasal dari Kabupaten Kulonprogo Ki Nanang Hadi Sugito, di halaman rumah kepala dusun, Andoko (60). Ia dua bulan lagi purna sebagai kadus, setelah menjabat 22 tahun.

Pementasan "Jaran Kepang Papat" di halaman rumah warga, Jesaparjo (40), sedangkan pertujukan kesenian di jalan utama dusun. Sebelum hari "Saparan", warga gotong royong membersihkan makam dusun, sebagai penghormatan kepada lelulur dan cikal bakal dusun, Kiai Kotik dan Nyai Kotik.

Tradisi pakem "Saparan" dimulai setelah terdengar bunyi kentongan dari masjid. Warga keluar rumah masing-masing membawa ingkung beserta kelengkapan. Mereka berjalan kaki menuju rumah kadus untuk kenduri dan doa bersama.

Setelah beberapa tahun kelompok kesenian mereka, "Padepokan Andong Jinawi", pimpinan Haji Supadi Haryanto (55), bergabung dengan para seniman petani gunung dalam Komunitas Lima Gunung (Merapi, Merbabu, Andong, Sumbing, dan Menoreh). Warga terkesan memperoleh kesadaran baru makna kehidupan petani dan alam gunung. Pada 2008, mereka mengembangkan inspirasi untuk mengemas "Saparan" tanpa mengubah pakem menjadi "Saparan Tumpeng Jongko Ingkung Sewu".

Pada hari "Saparan", mereka mengawali dengan kirab melewati jalan dusun membawa gunungan hasil bumi bernama "Tumpeng Jongko" (tumpeng pengharapan), sedangkan setiap warga membawa ingkung yang menghadirkan imajinasi "Ingkung Sewu" (seribu ingkung). Mereka berjalan mengikuti rombongan utama kirab yang mengenakan pakaian adat Jawa, menuju rumah kadus.

"Tiyang ndesa, mastani kathah niku sewu (Orang desa menyebut jumlah banyak sebagai seribu), Tumpeng Jongko niku panjangka (tumpeng ini merupakan pengharapan)," kata tokoh pemuda setempat, Giyanto (40).

Tepi jalan utama dusun dipasangi instalasi puluhan ancak berisi tumpeng dan sesaji. Tahun ini, mereka mengusung tiga gunungan raksana berisi hasil bumi sebagai "Tumpeng Jongko" dalam kirab diiringi tabuhan bende dan tembang selawatan. Syukur dan kemeriahan bercampur bagaikan menguar dalam kirab "Saparan Tumpeng Jongko Ingkung Sewu".

Pementasan wajib tarian "Jaran Kepang Papat" dalam tradisi "Saparan Tumpeng Jongko Ingkung Sewu" oleh warga kawasan Gunung Andong di Dusun Mantran Wetan, Desa Girirejo, Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Rabu (29/7/2026). ANTARA/Hari Atmoko

Tahun ini, mereka menambah item acara singkat setelah kenduri, berupa pelepasan beberapa ekor ayam di jalan utama dusun, oleh tiga tokoh setempat, Andoko, Muh Thohir, dan Haji Supadi.

Sebelum warga berduyun-duyun meninggalkan halaman rumah kadus dengan iringan tabuhan bende, mereka melepas ayam itu sebagai simbol penguatan kesadaran pentingnya memelihara ayam, terutama karena setiap tahun menjadi sarana wajib membuat ingkung untuk "Saparan".

"Itu bagian dari arti ketercukupan (secara) multidimensional orang desa," ucap Sutanto yang juga pendiri Komunitas Lima Gunung dan belasan tahun pernah menjadi pengajar Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.

Editor: Masuki M. Astro
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |