Jakarta (ANTARA) - Perusahaan manajer investasi Allianz Global Investors (AllianzGI) Indonesia menilai pasar obligasi domestik masih menarik di tengah ketidakpastian global karena dukungan likuiditas domestik dan permintaan investor institusi lokal yang solid.
Fixed Income Portfolio Manager AllianzGI Indonesia Akuntino Mandhany dalam keterangan tertulis diterima di Jakarta, Jumat, mengatakan kondisi pasar obligasi domestik itu membantu menyerap pasokan obligasi sekaligus meredam volatilitas pasar.
“Imbal hasil obligasi pemerintah telah bergerak menjauh dari level yang sebelumnya relatif mahal, sehingga meningkatkan daya tarik carry dan roll-down, khususnya di pasar yang cenderung bergerak dalam kisaran terbatas, bukan berbasis tren,” ujar Akuntino.
Ia menambahkan arah kebijakan domestik Indonesia masih mendukung pertumbuhan ekonomi dengan otoritas fiskal dan moneter yang berfokus menjaga momentum serta stabilitas ekonomi.
Namun demikian, pasar tetap sensitif terhadap faktor eksternal seperti dinamika nilai tukar, sentimen risiko global, serta persepsi terhadap disiplin fiskal dan kredibilitas kebijakan.
Baca juga: SBN ORI029 dinilai jadi pilihan investasi aman dan bijak
“Diperlukan pendekatan pendapatan tetap yang selektif dan disiplin, dengan fokus pada peluang carry, pengelolaan durasi yang hati-hati, serta fleksibilitas dalam menghadapi periode volatilitas,” katanya.
Dari sisi global, AllianzGI melihat investor memasuki 2026 dengan kombinasi pasokan penerbitan baru yang tinggi dan arus informasi yang padat.
Kebijakan bank sentral utama, seperti Bank Sentral AS Federal Reserve, Bank Sentral Jepang Bank of Japan, dan Bank Sentral Kanada Bank of Canada, dinilai bergerak sesuai ekspektasi pasar.
Tim Chief Investment Officer (CIO) AllianzGI dalam laporan Insights Fixed Income Forward: February 2026 memperkirakan rentang skenario makro pada 2026 akan semakin menyempit dengan skenario dasar menuju lingkungan reflasi dan kondisi keuangan yang tetap akomodatif.
Baca juga: Pemerintah ajak masyarakat investasi aman di Surat Berharga Negara
Dalam kondisi tersebut, strategi berbasis "carry" dinilai masih relevan. Strategi investasi berbasis "carry" merupakan strategi dengan tujuan menghasilkan keuntungan dari selisih imbal hasil (yield) yang diperoleh selama memegang obligasi.
Menurut AllianzGI, risiko arus repatriasi dana Jepang serta memburuknya keseimbangan fiskal di sejumlah negara OECD belum sepenuhnya tercermin di pasar, sehingga peluang strategi yield curve steepener dinilai lebih menarik.
Strategi yield curve steepener adalah strategi investasi obligasi yang bertujuan mendapatkan keuntungan ketika selisih imbal hasil (yield) antara obligasi jangka panjang dan jangka pendek melebar
Untuk pasar kredit global, AllianzGI menilai lingkungan saat ini masih mendukung strategi kredit "carry" dengan imbal hasil nominal yang menarik dan fundamental korporasi yang relatif solid.
Baca juga: Pemerintah terbitkan 8 seri SBN ritel pada 2025 sebesar Rp153 triliun
Kombinasi obligasi berperingkat BBB dan BB disebut dapat menjadi titik optimal antara potensi pendapatan dan pengelolaan risiko.
AllianzGI juga menilai obligasi pasar negara berkembang tetap berperan sebagai diversifikator portofolio, khususnya dalam lingkungan "carry" dengan dolar AS yang cenderung melemah secara struktural, meski pendekatan investasi perlu semakin selektif.
Sebelumnya, Bank Indonesia (BI) menyatakan terus melakukan langkah stabilisasi di pasar keuangan ketika terjadi tekanan arus modal keluar. Hal itu termasuk stabilisasi di pasar surat berharga negara (SBN) guna memastikan imbal hasil (yield) tetap seimbang dan aset rupiah tetap menarik di tengah persaingan global yang ketat.
Menurut Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti, setelah sepanjang 2025 mencatat arus modal keluar (outflow) sebesar Rp126,49 triliun, dalam beberapa hari terakhir arus dana asing mulai kembali masuk, baik di pasar Surat Berharga Negara (SBN), Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), maupun saham.
Adapun secara tahun berjalan (year to date/YTD) hingga 6 Februari 2026, tercatat inflow sebesar Rp15,44 triliun, terutama ke pasar SBN dan SRBI.
Baca juga: Pemerintah bidik Rp25 triliun dari penerbitan SBN perdana ORI029
Pewarta: Indra Arief Pribadi
Editor: Junaydi Suswanto
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































