50 vendor meriahkan pameran "wedding" di Semarang 21-23 Agustus

1 day ago 5
Trennya itu sebenarnya simpel-simpel, kayak dulu dekorasi itu kan bunga-bunga banyak. Sekarang larinya ke kain-kain yang simpel, minimalis gitu. Kayak enggak mau repot

Semarang (ANTARA) - Sekitar 50 vendor pendukung pesta perkawinan memeriahkan "wedding exhibition" atau pameran pesta perkawinan bertajuk "Let's Get Married" yang berlangsung di DP Mal Semarang, Jawa Tengah, pada 21-23 Agustus 2026.

Evelyne Joyce selaku pemilik Topeng The Event yang menjadi penyelenggara kegiatan, di Semarang, Minggu, mengatakan bahwa pameran "wedding" kali ini disesuaikan dengan model supermarket.

Menurut dia, pameran pesta perkawinan itu memang menyuguhkan konsep "Wedding Shopping Experience" sehingga pengunjung bisa melihat dan memilih vendor layaknya sedang berbelanja.

Mereka bisa membandingkan berbagai pilihan, berkonsultasi secara langsung, sampai mendapatkan program eksklusif dalam suasana yang nyaman, santai, modern dan mudah diakses.

"Vendornya komplit. Ada dekorasi, hotel, katering, stylist, cake, bridal, wedding organizer, kemudian ada undangan, invitation, suvenir, dancer, lighting, sound system, dan banyak lagi," katanya.

Diakuinya, nuansa yang diangkat memang lebih kekinian, sebab tren konsep perkawinan generasi Z sekarang ini memang sedikit berbeda, yakni cenderung simpel.

"Trennya itu sebenarnya simpel-simpel, kayak dulu dekorasi itu kan bunga-bunga banyak. Sekarang larinya ke kain-kain yang simpel, minimalis gitu. Kayak enggak mau repot," katanya.

Baca juga: PDAM Kota Semarang pastikan pasokan air aman selama kemarau

Baca juga: Mentan Amran tinjau sawah dan berikan traktor ke petani di Semarang

Berbeda dengan selera kalangan orang tua yang ingin sesuatu yang terlibat mewah dan glamour, kata dia, anak-anak muda sekarang tidak suka desain yang berat, namun cenderung yang polos dan simpel, termasuk saat "prewedding".

Namun, kata dia, kesan mewah tetap muncul karena sekarang ini trennya menggunakan sentuhan LED dengan permainan pencahayaan dan video.

"Sentuhan LED banyak. Sekarang itu anak-anak suka membuat video-video pendek. Jadi, kebanyakan acara sekarang ingin menunjukkan video pendek kayak apa cerita kisah mereka," katanya.

Peragaan busana yang menjadi bagian dari pameran perkawinan bertajuk "Let's Get Married" di Semarang, Sabtu (23/8/2026). (ANTARA/Zuhdiar Laeis)

Seiring dengan kondisi ekonomi sekarang ini, ia mengakui memang ada pengaruhnya dengan bisnis pesta perkawinan, tetapi para pelaku usaha di bidang itu tetap bertahan.

Menurut dia, kondisi itu turut didukung budaya Timur yang cenderung memposisikan pesta perkawinan sebagai sesuatu yang bergengsi sehingga akan tetap diusahakan dalam kondisi apapun.

Meskipun pesta perkawinan bukanlah kebutuhan primer, kata dia, masyarakat akan tetap berupaya mengusahakan tetap menggelar sebagai suatu "kebutuhan".

"Ya ada pengaruhnya, tetapi tetap-tetap pesta gitu. Misalkan dulu kadar pestanya 1.000 orang sekarang jadi 300 orang. Jadi, walaupun 'in this economy' pun orang mengusahakan supaya bisa terlaksana pernikahan," katanya.

Selain pameran, ada pula "fashion show bridal and groom collection" yang bisa menjadi acuan tren busana perkawinan teranyar.

Baca juga: Pameran pesta pernikahan digelar di Semarang 7-9 Februari

Baca juga: BI: Industri pengolahan jadi penopang ekonomi Jateng

Pewarta: Zuhdiar Laeis
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |