Sumbawa dorong ekonomi biru berbasis Teluk Saleh

4 hours ago 4

Sumbawa (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, mendorong pengembangan ekonomi biru di kawasan Teluk Saleh melalui pengelolaan potensi kelautan dan pariwisata yang melibatkan masyarakat setempat.

Wakil Bupati Sumbawa H. Mohamad Ansori mengatakan Teluk Saleh memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai kawasan wisata bahari sekaligus sumber penghidupan masyarakat pesisir.

"Konservasi dan kesejahteraan masyarakat bukanlah dua hal yang bertentangan. Keduanya bisa berjalan beriringan dan saling menguatkan apabila dikelola dengan pendekatan berbasis masyarakat," katanya saat menghadiri kegiatan The Regional Exchange di Aula Sumbawa Grand Hotel, Selasa.

Menurut Ansori, Teluk Saleh memiliki luas sekitar 1.459 kilometer persegi dan menjadi salah satu habitat penting hiu paus di Indonesia. Sejumlah penelitian juga menunjukkan kawasan tersebut berperan sebagai tempat pembesaran (nursery ground) hiu paus.

Keberadaan hiu paus menjadi salah satu potensi wisata bahari yang perlu dikelola dengan memperhatikan daya dukung kawasan. Pengaturan aktivitas wisata, termasuk jumlah kapal dan wisatawan serta jarak aman dengan satwa, dinilai penting untuk menjaga keberlanjutan destinasi.

Ansori mengatakan pengalaman pengelolaan wisata berbasis warga telah berkembang di sejumlah wilayah Sumbawa, salah satunya Desa Labuhan Jambu, Kecamatan Tarano.

Desa tersebut menjadi salah satu lokasi pembelajaran dalam pengelolaan kawasan pesisir dan wisata melalui keterlibatan warga, dengan dukungan berbagai pihak, termasuk Yayasan Konservasi Indonesia.

Menurutnya, pengalaman tersebut dapat menjadi pembelajaran dalam mengembangkan potensi bahari Sumbawa dengan menempatkan masyarakat sebagai bagian penting dalam pengelolaan kawasan.

Baca juga: Pemprov NTB tetapkan Teluk Saleh sebagai kawasan konservasi

Baca juga: NTB ajak masyarakat lokal kelola hiu paus berkelanjutan di Teluk Saleh

Pemerintah Kabupaten Sumbawa, lanjutnya, mendorong kerja sama pemerintah desa, kelompok masyarakat, pelaku usaha, sektor pariwisata, lembaga konservasi, dan mitra pembangunan dalam mengembangkan potensi kelautan daerah.

Selain Teluk Saleh, kawasan Saleh, Moyo, dan Tambora (SAMOTA) merupakan bagian dari Cagar Biosfer Dunia yang ditetapkan UNESCO pada 2019.

Ansori menilai status tersebut menjadi modal penting bagi Sumbawa untuk memperkuat pengembangan wisata berbasis kekayaan alam sekaligus meningkatkan manfaatnya bagi daerah dan masyarakat.

Ia berharap kegiatan The Regional Exchange menjadi ruang berbagi pengalaman antara pemangku kepentingan dari Indonesia dan Timor-Leste dalam mengelola sumber daya pesisir dan laut.

"Pertukaran pengetahuan dan pengalaman seperti ini diharapkan dapat memperkuat pengelolaan potensi Sumbawa sehingga memberikan manfaat bagi masyarakat dan daerah," ujarnya.

Kegiatan tersebut mempertemukan pemerintah, masyarakat, lembaga konservasi, dan pemangku kepentingan dari Indonesia dan Timor-Leste untuk berbagi praktik pengelolaan sumber daya pesisir dan laut.

Baca juga: NTB susun zonasi kawasan konservasi hiu paus di Teluk Saleh

Baca juga: NTB dorong Samota jadi kawasan ramah investasi

Pewarta: Ady Ardiansah
Editor: Budhi Santoso
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |