Palu (ANTARA) - Solidaritas Perempuan (SP) Palu mendampingi seorang pekerja migran perempuan asal Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, berinisial I yang diduga mengalami sejumlah pelanggaran hak selama bekerja sebagai pekerja rumah tangga di Pulau Pinang, Malaysia.
Ketua Badan Eksekutif Komunitas SP Palu Riana di Palu, Jumat, mengatakan pendampingan dilakukan setelah keluarga melaporkan kasus tersebut pada 4 Agustus 2026 dan meminta bantuan untuk memastikan pemulangan serta pemenuhan hak korban.
"Kasus ini tidak boleh dipandang sebagai persoalan individu semata, melainkan sebagai cerminan masih lemahnya sistem perlindungan pekerja migran perempuan," katanya.
Menurut Riana, dugaan pelanggaran yang dilaporkan meliputi persoalan pembayaran upah, pembatasan komunikasi dengan keluarga, kondisi kesehatan selama bekerja, serta dugaan ketidaktransparanan dalam proses perekrutan dan penempatan.
Berdasarkan informasi yang diterima SP Palu dari keluarga, pihak agensi telah memfasilitasi kepulangan I dari Malaysia menuju Batam menggunakan kapal dan menyediakan tiket perjalanan dari Batam menuju Jakarta.
Baca juga: Wakil Ketua DPR minta pekerja migran Lombok tetap tempuh jalur resmi
SP Palu meminta pemerintah memastikan proses pemulangan berlangsung hingga korban tiba dengan aman di daerah asal sekaligus memberikan pendampingan untuk pemulihan fisik dan psikologis serta pemenuhan hak ketenagakerjaan yang belum diterima.
Riana mengatakan pemerintah juga perlu menelusuri proses perekrutan dan penempatan I apabila ditemukan dugaan pelanggaran peraturan perundang-undangan maupun indikasi tindak pidana perdagangan orang (TPPO).
Menurut keterangan keluarga, I berangkat dari daerah asal pada Juni 2026 dan kemudian bekerja sebagai pekerja rumah tangga di Pulau Pinang. Selama bekerja, keluarga mengaku komunikasi dengan I semakin terbatas dan menerima keluhan mengenai kondisi kesehatan serta pembayaran upah yang dinilai tidak sesuai perjanjian.
SP Palu meminta pemerintah memperkuat pengawasan terhadap perekrutan dan penempatan pekerja migran perempuan sejak sebelum keberangkatan, selama bekerja di negara tujuan, hingga kembali ke daerah asal.
"Harapan kami hanya satu, beliau dapat dipulangkan dengan selamat dan seluruh haknya sebagai pekerja migran dipenuhi," kata suami I.
Baca juga: KP2MI rancang Program SMK Go Global tingkatkan brain circulation
Pewarta: Fauzi
Editor: Edy Sujatmiko
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































