Mataram (ANTARA) - Riuh tepuk tangan, musik tradisional yang berpadu dengan gemuruh ombak, hingga deretan anjungan UMKM yang dipadati pengunjung menjadi potret yang berulang di berbagai sudut Nusa Tenggara Barat (NTB) sepanjang tahun.
Pariwisata di daerah ini tidak lagi hanya soal pantai dan gunung, tetapi tentang peristiwa. Tentang momentum yang sengaja diciptakan untuk menggerakkan orang datang, tinggal, dan membelanjakan pengalaman.
Tahun 2026 menjadi babak penting. Sebanyak 69 agenda pariwisata disiapkan dalam satu kalender penuh, tersebar di seluruh kabupaten dan kota. Angka ini bukan sekadar daftar kegiatan. Ia adalah strategi.
Di tengah target ambisius kunjungan lebih dari 2,55 juta wisatawan, event menjadi mesin penggerak utama yang diharapkan mampu menjaga ritme kunjungan tetap stabil sepanjang tahun.
Namun, di balik optimisme itu, muncul pertanyaan mendasar. Apakah banyaknya event otomatis menjamin dampak ekonomi yang merata? Ataukah hanya menciptakan keramaian sesaat tanpa keberlanjutan yang jelas
Ledakan event
Kebijakan memperbanyak agenda pariwisata bukan tanpa alasan. Pengalaman sebelumnya menunjukkan bahwa event memiliki efek instan terhadap pergerakan ekonomi.
Ajang olahraga rekreasi berskala nasional pada 2025, misalnya, mampu menciptakan perputaran uang hingga Rp130 miliar. Tingkat hunian hotel melonjak drastis, bahkan mendekati penuh dalam waktu singkat. Transportasi laut dan darat ikut terdongkrak.
Dari sini, logika yang dibangun menjadi sederhana. Semakin banyak event, semakin besar peluang ekonomi bergerak. Maka lahirlah pendekatan kuantitatif dengan menghadirkan puluhan agenda dalam satu tahun kalender.
Empat di antaranya bahkan masuk dalam kurasi nasional melalui program Kharisma Event Nusantara. Ini menjadi indikator bahwa kualitas event di NTB mulai diakui di tingkat pusat. Namun, dominasi angka tetap menyisakan celah evaluasi.
Karena dalam praktiknya, tidak semua event memiliki daya tarik yang sama. Ada yang mampu menarik wisatawan lintas negara, tetapi ada pula yang hanya menjadi konsumsi lokal. Ketimpangan ini sering kali luput dari perhatian karena fokus masih pada jumlah, bukan dampak.
Di sisi lain, dinamika global turut memberi tekanan. Konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah berdampak pada penurunan wisatawan dari Eropa dan sekitarnya. Penurunan sekitar 11 persen dari kawasan tertentu menjadi sinyal bahwa pasar wisata sangat rentan terhadap faktor eksternal.
Situasi ini memaksa pemerintah daerah mengalihkan strategi dengan menyasar pasar yang lebih dekat seperti Malaysia, Singapura, dan Australia. Langkah ini realistis, tetapi sekaligus menunjukkan bahwa event tidak bisa berdiri sendiri tanpa strategi pasar yang adaptif.
Dampak nyata
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































