Jakarta (ANTARA) - CEO PT Abadi Lestari Indonesia Tbk (RealCo) Edwin Pranata menilai hilirisasi sarang burung walet (SBW) dapat memperbesar nilai tambah ekspor Indonesia sekaligus memperkuat posisi produk nasional di pasar global.
Ia mengatakan Indonesia memiliki basis pasokan sarang burung walet yang besar, namun pengembangan produk bernilai tambah perlu diperkuat agar komoditas tersebut tidak hanya dipasarkan dalam bentuk bahan mentah atau olahan dasar.
"Kami sangat tergerak untuk bagaimana kita bisa mentransformasi dan membawa salah satunya produk sarang burung walet ini menjadi sebuah unggulan dan juga bisa mengubah ini daripada dari sebuah komoditas menjadi global wellness brand Indonesia," kata Edwin dalam Media Connect Samuel Sekuritas Indonesia di Jakarta, Jumat.
Dalam materi yang dipaparkan, Indonesia disebut berkontribusi sekitar 60-80 persen terhadap pasokan sarang burung walet global.
Perusahaan memaparkan nilai ekspor sarang burung walet Indonesia dalam wujud segar pada Januari-September 2025 tercatat sekitar 345 juta dolar AS atau sekitar Rp6,17 triliun.
"Indonesia penghasil 80 persen sarang burung walet dunia. Jadi sebenarnya salah kalau orang bilang sarang burung walet datangnya dari China. Sebenarnya dari Indonesia," ucap Edwin.
Ia mengatakan besarnya produksi nasional menjadi modal bagi Indonesia untuk mengembangkan industri pengolahan sehingga nilai ekonomi komoditas tersebut dapat semakin banyak tercipta di dalam negeri.
Menurut dia, selama ini sarang burung walet Indonesia masih lebih dikenal sebagai komoditas ekspor, sementara peluang pengembangan produk turunannya masih terbuka.
Baca juga: Barantin perkuat pengawasan guna jaga akses ekspor ke China
Baca juga: Perusahaan sarang burung walet Indonesia perluas bisnis di China
Data perseroan pada semester I 2026 memperlihatkan perbedaan tingkat margin antara bisnis sarang burung walet olahan dengan produk konsumennya.
Ia memaparkan bahwa segmen sarang burung olahan mencatat penjualan sekitar Rp234,4 miliar dengan margin kotor 19,2 persen, sedangkan segmen produk konsumen membukukan penjualan sebesar Rp37,6 miliar dengan margin kotor 42,7 persen.
Secara konsolidasi, penjualan RealCo pada semester I 2026 mencapai Rp272 miliar. Laba bersih tercatat Rp20,38 miliar, meningkat 13,4 persen dibandingkan Rp17,97 miliar pada periode pembanding yang dicantumkan perseroan.
Edwin mengatakan perseroan juga melakukan riset untuk meningkatkan pengembangan sarang burung walet dari sekadar produk pangan menuju produk dengan nilai berbasis penelitian atau science-based value.
Namun, ia menyebut pengembangan tersebut masih berada dalam tahap penelitian. Karena itu, perseroan belum memerinci kategori produk maupun manfaat yang nantinya akan dikembangkan.
"Kita memang meluangkan banyak effort kita dan waktu kita untuk meng-upgrade status ini. Supaya ini juga nantinya ke depan pasti akan membawa dampak positif untuk industri sarang burung walet Indonesia," ungkap dia.
Selain hilirisasi, ia menilai diversifikasi pasar ekspor penting untuk memperluas jangkauan produk Indonesia dan mengurangi konsentrasi penjualan pada satu negara.
Ia menyatakan bahwa pasar ekspor perseroan sebelumnya hampir 90 persen didominasi China. RealCo mulai memperluas pasar ke Vietnam dan berencana menambah Thailand pada kuartal IV 2026.
"Kita sekarang mulai mendiversifikasi pasar ekspor kita yang awalnya didominasi hampir 90 persen ke China. Sekarang kita akan mulai mendiversifikasi ke pasar-pasar Asia Tenggara lainnya," ungkap Edwin.
Menurut Edwin, pengembangan produk turunan dan perluasan pasar menjadi bagian dari upaya meningkatkan daya saing produk berbasis sumber daya Indonesia agar tidak berhenti sebagai komoditas.
Ia berharap penguatan pengolahan di dalam negeri dapat membuat Indonesia semakin dikenal sebagai produsen produk bernilai tambah, termasuk di luar sektor pertambangan dan perkebunan.
Kementerian Perdagangan (Kemendag) pada Juli 2026 juga mendorong pengembangan ekspor sarang burung walet melalui diversifikasi produk dan perluasan pasar.
Pemerintah sedang merumuskan peta jalan industri yang berorientasi pada peningkatan nilai tambah, diversifikasi pasar, serta penguatan daya saing ekspor Indonesia.
Data Kemendag menunjukkan Indonesia merupakan pemasok sarang burung walet terbesar dunia pada 2025 dengan nilai ekspor 551,56 juta dolar AS atau pangsa 58,31 persen.
Dari jumlah tersebut, ekspor ke China mencapai 380,20 juta dolar AS (sekitar Rp6,81 triliun) dan negara tersebut menyerap 80,15 persen sarang burung walet Indonesia.
Kementerian Pertanian (Kementan) juga menempatkan hilirisasi sarang burung walet sebagai strategi untuk meningkatkan nilai tambah dan daya saing global RI. Kementan menilai ekspor perlu diperluas tidak hanya dalam bentuk sarang burung walet bersih, tetapi juga melalui produk olahan hasil hilirisasi.
Lebih lanjut, Badan Karantina Indonesia (Barantin) mencatat ekspor sarang burung walet Indonesia pada Januari–September 2025 mencapai 894,86 ton dengan tujuan antara lain China, Hong Kong, Vietnam, Makau, Singapura, Malaysia, Amerika Serikat, Jepang dan Korea Selatan. Barantin juga mendorong hilirisasi produk olahan untuk meningkatkan daya saing ekspor.
Pada Juli 2026, Barantin menyatakan akan memperketat pengendalian mutu ekspor sarang burung walet setelah 19 dari 50 perusahaan eksportir mengalami penangguhan dari China karena persoalan kandungan aluminium.
Baca juga: Barantin perketat quality control untuk ekspor sarang walet ke China
Baca juga: Barantin investigasi pembatasan ekspor sarang burung walet ke China
Pewarta: Aria Ananda
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































