Jakarta (ANTARA) - Pondok Pesantren Darunnajah Jakarta membuka tahun pelajaran 2026/2027 dengan menggelar Khutbatul 'Arsy atau tradisi pendidikan pesantren berupa pidato resmi pimpinan yang menjelaskan secara menyeluruh hakikat pesantren kepada seluruh warganya, yang wajib diikuti oleh seluruh santri beserta dewan guru.
“Khutbatul 'Arsy adalah tradisi pendidikan pesantren yang menjelaskan secara menyeluruh hakikat pesantren kepada seluruh warganya, mulai dari sejarah, visi, sistem pendidikan, disiplin, dan alasan di balik setiap aturan,” kata Pimpinan Pondok Pesantren Darunnajah Prof KH Sofwan Manaf di Jakarta, Kamis.
Menurut dia, hal yang membedakan dari sekadar orientasi siswa baru, yaitu kegiatan tersebut diikuti pula oleh santri lama dan seluruh guru. Jadi, kegiatan itu merupakan sebuah mekanisme penyegaran nilai yang diulang setiap tahun dan berlangsung dalam empat babak pada 5-8 Agustus 2026 di GOR Darunnajah, Ulujami, Jakarta Selatan.
Dia pun menjelaskan pesantren itu bukan hotel dan bukan kamar kos. Pesantren didirikan dengan wakaf, keringat, air mata, dan doa para pendiri agar para santri berhasil menuntut ilmu dan mengamalkan agama.
“Lulusannya siap menjadi pemimpin umat di masa depan," ujar Sofwan.
Lebih lanjut, dia menuturkan pemerintah menempatkan pembangunan sumber daya manusia sebagai fondasi utama menuju Indonesia Emas 2045.
Sementara, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menerjemahkannya, antara lain melalui Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, mulai dari bangun pagi, beribadah, berolahraga, makan sehat dan bergizi, gemar belajar, bermasyarakat, dan tidur cepat sebagai jalan membentuk delapan karakter utama bangsa yang religius, bermoral, sehat, cerdas dan kreatif, kerja keras, disiplin dan tertib, mandiri, serta bermanfaat.
Baca juga: Ciptakan generasi emas, Laznas Darunnajah salurkan beasiswa tahfidz
Sofwan menilai pendidikan karakter tidak bisa dititipkan pada satu mata pelajaran atau satu pekan kampanye, tetapi hanya dapat terbentuk lewat pembiasaan yang diulang bertahun-tahun dalam lingkungan yang konsisten.
“Di sini titik temu tradisi pesantren dan agenda nasional secara alamiah,” tutur Sofwan.
Dalam kesempatan yang sama, Pimpinan Pondok Pesantren Darunnajah sekaligus Rektor Universitas Darunnajah KH. Hadiyanto Arief menambahkan kekuatan pesantren terletak pada apa yang tidak tertulis pada jadwal pelajaran.
Dia mengungkapkan hal yang membedakan lulusan pesantren umumnya bukan penguasaan materinya, melainkan kebiasaan hidupnya, yang mengandung nilai-nilai disiplin, mandiri, tahan uji, dan terbiasa memikul tanggung jawab sejak usia belasan.
“Kualitas seperti inilah yang paling dibutuhkan pada 2045, dan justru yang paling sulit dibentuk secara instan," tegas Hadiyanto.
Di sisi lain, dia mengatakan disiplin sebagai investasi jangka panjang materi Khutbatul 'Arsy tahun ini menempatkan disiplin diri sebagai bahasan utama.
“Santri diajak memahami bahwa aturan pesantren bukan pembatas, melainkan latihan menghadapi kehidupan yang di mana pun memiliki aturannya sendiri, di jalan raya, di tempat kerja, hingga di ruang publik,” imbuh Hadiyanto.
Baca juga: Universitas Darunnajah gelar konferensi internasional tentang wakaf
Baca juga: Santri Pesantren Darunnajah nikmati daging sapi kurban dari Prabowo
Pewarta: Mario Sofia Nasution
Editor: Rr. Cornea Khairany
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































