Jakarta (ANTARA) - Pengamat Hubungan Internasional Andrea Abdul Rahman Azzqy menilai Komisi Perdagangan Bersama yang dibentuk oleh Pemerintah Indonesia dan Thailand menjadi instrumen penting dalam mengoptimalkan perdagangan bilateral.
“Hemat saya, Komisi Perdagangan Bersama harus dioptimalkan sebagai instrumen eksekusi, bukan sekadar forum seremonial. Harmonisasi standar produk, pengurangan hambatan nontarif, dan mekanisme early warning akan membuat perdagangan lebih lancar,” kata Andrea saat dihubungi di Jakarta, Jumat.
Adapun Komisi Perdagangan Bersama yang dibentuk oleh Presiden RI Prabowo Subianto dan Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul bertugas memperluas akses pasar sekaligus memangkas berbagai hambatan perdagangan antarnegara.
Lebih lanjut, Andrea mengatakan Komisi Perdagangan Bersama juga diharapkan mampu menjadi katalis pencapaian target perdagangan bilateral senilai 20 miliar dolar AS pada 2030, yang dituangkan dalam Peta Jalan Kemitraan Strategis Indonesia-Thailand 2026-2030.
Total nilai perdagangan kedua negara tercatat sebesar 16,23 miliar dolar AS pada 2021, melonjak ke 19,19 miliar dolar AS pada 2022, lalu stabil di kisaran 17,5 miliar dolar AS pada 2023 dan 2024. Pada 2025, nilai perdagangan tumbuh 1,35 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi 17,67 miliar dolar AS.
Data Kementerian Perdagangan (Kemendag) juga mencatat bahwa akumulasi perdagangan sepanjang semester I 2026 telah menembus 9,80 miliar dolar AS. Jika tren tersebut konsisten hingga akhir tahun, nilai perdagangan RI-Thailand pada 2026 diproyeksikan mendekati 19,6 miliar dolar AS, hampir melampaui target yang dipatok untuk 2030.
Menurut Andrea, penting bagi Indonesia untuk memanfaatkan momentum ini untuk mendorong kinerja ekspor produk-produk bernilai tambah.
“Target perdagangan bilateral Indonesia-Thailand senilai 20 miliar dolar AS pada 2030 bisa dicapai bila RI mendorong ekspor bernilai tambah, terutama produk perikanan olahan, komponen otomotif, serta farmasi dan kesehatan,” katanya.
Akademisi Universitas Budi Luhur itu menambahkan, sektor-sektor tersebut bukan hanya menjawab kebutuhan pasar Thailand, akan tapi juga menancapkan jejak Indonesia dalam rantai pasok regional.
“Opini saya, ekspor masa depan bukan sekadar bahan mentah, tapi nilai tambah yang meneguhkan posisi Indonesia,” kata Andrea.
Selain itu, ia menilai kerja sama strategis antara Indonesia-Thailand juga perlu dikembangkan di luar perdagangan.
“Kerja sama konkret sepatutnya menyentuh transfer teknologi pertanian, penguatan sumber daya manusia (SDM) pariwisata, dan riset energi terbarukan,” ujar Andrea.
“Dapat dipahami bahwa kerja sama sejati bukan hanya soal barang yang berpindah, tapi pengetahuan yang ditransfer dan kapasitas yang tumbuh bersama,” katanya menambahkan.
Pewarta: Arnidhya Nur Zhafira
Editor: Virna P Setyorini
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































