Jakarta (ANTARA) - Peneliti The Indonesian Institute (TII) Made Natasya Restu Dewi Pratiwi mengusulkan agar manajemen bencana di tanah air beralih dari pendekatan reaktif menjadi antisipatif.
Menurut Natasya saat dikonfirmasi di Jakarta, Selasa, perubahan pendekatan dalam manajemen bencana itu diperlukan agar bantuan dan perlindungan bagi masyarakat dapat disiapkan sebelum dampak terburuk bencana terjadi.
"Pada akhirnya, gempa NTT harus menjadi momentum untuk mengubah cara Indonesia mengelola bencana dari reaktif menjadi antisipatif dan responsif, serta kolaboratif," kata dia.
Lebih lanjut Natasya menilai gempa bumi yang melanda Nusa Tenggara Timur (NTT) menunjukkan bahwa persoalan penanganan bencana tidak hanya berkaitan dengan besarnya ancaman, tetapi juga kesiapan pemerintah menyediakan bantuan dan perlindungan bagi masyarakat terdampak.
Baca juga: Peneliti BRIN dorong pendekatan people-centered dalam tangani bencana
Ia mengatakan, pascagempa ketersediaan air minum, air bersih, dan bahan makanan di pengungsian dilaporkan menipis sehingga warga kesulitan memperoleh kebutuhan dasar.
Kondisi tersebut, kata dia, menjadi semakin berat bagi kelompok rentan seperti ibu hamil, ibu melahirkan, ibu menyusui, anak-anak, lansia, dan penyandang disabilitas yang menghadapi hambatan berbeda dalam memperoleh layanan kesehatan, informasi evakuasi, maupun bantuan.
"Kelompok yang sejak awal memiliki keterbatasan akses terhadap informasi, mobilitas, layanan kesehatan, maupun sumber daya akan menghadapi risiko yang lebih besar ketika sistem penanganan bencana belum dirancang secara inklusif," ujarnya.
Berikutnya, dia menjelaskan bahwa aksi antisipatif merupakan tindakan yang dilakukan sebelum dampak terburuk bencana terjadi berdasarkan prakiraan atau analisis risiko.
Baca juga: BNPB RI dan GIZ Jerman perkuat manajemen risiko bencana di Kalsel
Menurut dia, pendekatan tersebut perlu diperkuat dengan prinsip Gender Equality, Disability, and Social Inclusion (GEDSI) melalui penyediaan data kebutuhan kelompok rentan di wilayah berisiko bencana.
Data tersebut dapat menjadi dasar untuk menyiapkan stok bantuan, perlengkapan kesehatan reproduksi, kebutuhan bayi, ibu hamil dan ibu menyusui, serta alat bantu mobilitas sebelum bencana terjadi.
Kemudian, Natasya juga mendorong peningkatan kapasitas masyarakat melalui pelatihan dan simulasi bencana agar warga memahami rute evakuasi, pusat rujukan pelayanan kesehatan, serta lokasi pengungsian.
Selain itu, informasi peringatan dini perlu dipastikan dapat dipahami dan ditindaklanjuti masyarakat, termasuk melalui sosialisasi aplikasi risiko bencana seperti Info BMKG.
Baca juga: Inovasi anak bangsa berjaya di Singapura lewat aplikasi manajemen bencana berbasis AI
Pewarta: Tri Meilani Ameliya
Editor: Riza Mulyadi
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
















































