Jakarta (ANTARA) - Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta mengajak masyarakat serta pengelola usaha untuk mengelola pangan secara lebih bijak, salah satunya melalui pengurangan sampah dari sumber.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Dudi Gardesi Asikin mengatakan pengurangan sisa makanan dari rumah tangga dan tempat usaha akan memberikan dampak langsung terhadap berkurangnya beban sistem pengelolaan sampah kota.
“Semakin sedikit makanan yang terbuang, semakin kecil pula volume sampah yang harus dikumpulkan, diangkut, dan diolah. Karena itu, pengurangan sisa makanan harus menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari masyarakat Jakarta,” kata Dudi dalam keterangan tertulis, Jumat.
Melalui gerakan "Warga Jakarta Bijak Pangan" dan "Gerakan Pilah Sampah", kata dia, masyarakat didorong untuk merencanakan konsumsi, mencegah makanan terbuang, memanfaatkan bahan pangan yang masih layak, serta memilah sampah sejak dari rumah.
Menurut dia, masyarakat dapat berkontribusi melalui sejumlah langkah sederhana, antara lain merencanakan belanja sesuai kebutuhan, mengambil makanan secukupnya, menghabiskan makanan, mengolah kembali bahan pangan yang masih layak, serta memisahkan sampah organik dan anorganik.
Gerakan yang dilaksanakan bersama Indonesia Business Council for Sustainable Development (IBCSD) tersebut juga melibatkan komunitas serta pelaku usaha sektor hotel, restoran, dan katering.
Baca juga: Pemprov DKI perkuat pencegahan sisa makanan di sektor usaha
Kolaborasi tersebut menjadi bagian dari upaya Pemprov DKI dalam membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih efektif dan berkelanjutan.
Dudi menuturkan saat ini, Jakarta menghasilkan sekitar 9.059 ton sampah setiap hari. Hampir separuh dari jumlah tersebut merupakan sampah organik yang didominasi sisa makanan.
“Sampah sisa makanan yang terus meningkat memberikan beban besar terhadap sistem pengelolaan sampah perkotaan. Karena itu, pengurangannya harus dimulai dari kebiasaan sehari-hari dalam mengelola pangan,” tutur Dudi.
Sementara itu, Executive Director IBCSD Indah Budiani mengungkapkan Gerakan "Warga Jakarta Bijak Pangan" mendorong masyarakat memandang sisa makanan sebagai persoalan yang dapat dicegah melalui perubahan kebiasaan.
“Masyarakat dapat menerapkan kebiasaan sederhana, seperti merencanakan belanja sesuai kebutuhan, menyimpan pangan dengan benar agar lebih tahan lama, mengolah kembali makanan yang masih layak, hingga menyalurkannya kepada mereka yang membutuhkan,” ungkap Indah.
Dia menilai perubahan kebiasaan di rumah dapat memberikan dampak besar apabila dilakukan secara konsisten oleh jutaan warga Jakarta.
Selain mengurangi sampah, sambung dia, pengelolaan pangan yang bijak juga membantu menghemat pengeluaran rumah tangga dan memperkuat kepedulian sosial.
Baca juga: 225 ribu rumah di Jakarta sudah terapkan pilah sampah
Baca juga: Pram: Jumlah truk sampah ke Bantargebang berkurang sejak pilah sampah
Pewarta: Lia Wanadriani Santosa
Editor: Rr. Cornea Khairany
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































