Pemkot Cirebon lanjutkan GPM hingga akhir 2026 jaga daya beli warga

13 hours ago 5

Cirebon (ANTARA) - Pemerintah Kota Cirebon, Jawa Barat, memastikan program Gerakan Pangan Murah (GPM) terus dilaksanakan hingga akhir 2026 sebagai upaya menjaga daya beli masyarakat sekaligus mengendalikan inflasi melalui penyediaan bahan pangan dengan harga di bawah pasar.

Wali Kota Cirebon Effendi Edo di Cirebon, Jumat, mengatakan program tersebut menjadi salah satu langkah pemerintah daerah untuk menjaga stabilitas harga pangan di tengah fluktuasi harga sejumlah komoditas.

Ia mengatakan GPM yang digelar di Lapangan Kebon Pelok pada Kamis (6/8) merupakan pelaksanaan ke-21 sepanjang 2026, serta terus berlangsung hingga akhir tahun.

“Kegiatan ini bisa terus berjalan sampai akhir tahun agar stabilitas harga pangan tetap terjaga dan masyarakat semakin terbantu dalam memenuhi kebutuhan pokok,” katanya.

Menurut dia, pelaksanaan GPM melibatkan kolaborasi Pemerintah Kota Cirebon, Bank Indonesia, Perum Bulog, serta sejumlah pemangku kepentingan guna menjaga pasokan dan keterjangkauan harga pangan.

Pada kegiatan tersebut, kata dia, masyarakat dapat membeli berbagai kebutuhan pokok, antara lain minyak goreng, gula pasir, tepung terigu, telur, daging, bawang, serta aneka sayuran dengan harga lebih rendah dibandingkan harga pasar.

Edo menyampaikan selisih harga sejumlah komoditas dalam GPM cukup signifikan, sehingga memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.

“Misalnya bawang lebih murah sekitar Rp4.000 per kilogram dibandingkan harga pasar. Begitu juga telur dan daging sehingga masyarakat dapat berbelanja dengan harga yang lebih terjangkau,” ujarnya.

Baca juga: Sulbar dan UGM gelar pangan murah stabilisasi harga pangan

Baca juga: TPID dan BUMD Riau gelar pasar murah lima hari di Pekanbaru dan Kampar

Ia menambahkan, keberlanjutan GPM juga menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah mengendalikan inflasi melalui stabilisasi harga pangan.

Salah seorang warga Kota Cirebon, Tati, mengaku memanfaatkan GPM untuk membeli sejumlah kebutuhan pokok karena harganya lebih murah dibandingkan di pasar.

Ia menyebut harga telur dalam kegiatan tersebut sekitar Rp22 ribu per kilogram, sedangkan di pasar berkisar Rp25 ribu hingga Rp26 ribu per kilogram.

Sementara itu, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Cirebon Samiran mengatakan Kota Cirebon mencatat inflasi tahunan (year on year/yoy) sebesar 2,28 persen pada Juli 2026 dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) mencapai 109,77.

Ia mengatakan inflasi dipicu kenaikan harga pada sebagian besar kelompok pengeluaran, terutama makanan, minuman dan tembakau sebesar 2,61 persen, transportasi 4,07 persen, kesehatan 4,56 persen, pendidikan 4,42 persen, serta penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 2,96 persen.

“Kami mencatat Kota Cirebon mengalami deflasi bulanan sebesar 0,07 persen pada Juli 2026, sedangkan inflasi tahun kalender mencapai 1,39 persen,” tuturnya.

Baca juga: Bapanas catat 6.589 gerakan pangan murah hingga Juli, redam inflasi

Baca juga: Kemendagri minta Bulog-Pemda gencarkan Gerakan Pangan Murah

Pewarta: Fathnur Rohman
Editor: Budhi Santoso
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |