Pati (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Pati, Jawa Tengah membuktikan keberhasilan program panen tanaman padi 10 ton per hektare, sebagai upaya meningkatkan produktivitas di sektor pertanian.
"Program 10 ton per hektare bukan sekadar target, tetapi telah teruji di lapangan melalui pendampingan intensif kepada petani," kata Pelaksana tugas Bupati Pati Risma Ardhi Chandra saat mengikuti panen raya padi dengan capaian produksi 10,28 ton per hektare di Desa Bumiharjo, Kecamatan Winong, Kabupaten Pati, Sabtu.
Hadir dalam acara panen tersebut, Anggota Komisi IV DPR RI Firman Soebagyo sebagai pembuktian keberhasilan program peningkatan produktivitas pertanian yang digagas Pemkab Pati.
Risma menjelaskan, panen raya tersebut merupakan hasil kerja keras lintas sektor, mulai dari tingkat kabupaten hingga desa.
Baca juga: Di tengah banjir, Bulog Karawang serap gabah 2.500 ton/hari di Januari
"Kegiatan hari ini (7/2), dihadiri anggota DPR RI untuk membuktikan program satu hektare 10 ton di Desa Bumiharjo, Kecamatan Winong. Pagi ini sudah dicek dan hasilnya mencapai 10,28 ton," ujarnya.
Ia menganggap program tersebut luar biasa karena tim pertanian dari kecamatan sampai desa bekerja keras melakukan sosialisasi dan pendampingan.
Ia menambahkan peningkatan produksi tersebut tetap menggunakan pupuk subsidi secara penuh, dengan tambahan pupuk pendukung yang tepat.
Menurut dia, kombinasi tersebut mampu meningkatkan hasil panen yang sebelumnya hanya berkisar 5–7 ton per hektare menjadi lebih dari 10 ton.
Baca juga: Pengamat nilai AUTP jadi opsi untuk lindungi risiko gagal panen petani
"Petani di sini masih menggunakan 100 persen pupuk subsidi, ditambah pupuk pendukung. Hasilnya produksi bisa mencapai 10,2 ton. Insya Allah semua beres. Cuma tinggal bantuan alat-alat pertanian ini yang mungkin Pak Firman bisa membantu kami," ujarnya.
Sementara itu, anggota Komisi IV DPR RI Firman Soebagyo mengapresiasi capaian Pemerintah Kabupaten Pati dalam mengoptimalkan produksi padi.
Ia menilai keberhasilan tersebut sejalan dengan agenda nasional percepatan swasembada pangan dan penguatan ketahanan pangan.
"Ini patut diapresiasi karena faktanya capaian swasembada pangan nasional justru lebih cepat dari rencana. Stok beras nasional di awal tahun ini mencapai 3,32 juta ton. Namun capaian ini harus dijaga keberlanjutannya dengan mengantisipasi gagal panen dan anomali cuaca," ujarnya.
Baca juga: Petani Sayur Matinggi Tapsel panen padi pascabencana
Firman juga menekankan pentingnya perbaikan tata kelola pupuk dan penguatan peran negara dalam stabilisasi harga pangan.
Ia menyebut pemerintah pusat tengah menyiapkan kebijakan penguatan Bulog sebagai penyangga stok dan harga, serta mendorong penggunaan pupuk organik dan mikroba untuk menjaga produktivitas dan keberlanjutan pertanian nasional.
Baca juga: Bersiap menyambut panen raya 2026
Pewarta: Akhmad Nazaruddin
Editor: Abdul Hakim Muhiddin
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































