PASI realistis hadapi kekuatan atletik Asia

12 hours ago 7

Jakarta (ANTARA) - Pengurus Besar Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PB PASI) bersikap realistis menghadapi persaingan cabang atletik pada Asian Games Aichi-Nagoya 2026 karena kekuatan sejumlah negara Asia masih berada di atas Indonesia.

Manajer Tim Nasional Atletik Indonesia Mustara Musa mengatakan PB PASI tidak membebani 13 atlet yang dipersiapkan menuju Asian Games dengan target medali tertentu, melainkan mendorong mereka memperbaiki catatan terbaik pribadi.

“Kami kepada pelatih mencanangkan untuk memecahkan rekor-rekor pribadi atlet, bersyukur kalau itu rekor nasional (rekornas),” kata Mustara Musa saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Jumat.

Menurut dia, persaingan atletik pada tingkat Asia berbeda dengan kawasan Asia Tenggara karena Indonesia harus menghadapi negara-negara dengan tradisi kuat seperti China, Jepang, serta sejumlah negara bekas pecahan Uni Soviet.

Mustara menilai peluang meraih medali tetap terbuka, tetapi capaian tersebut tidak dapat dipaksakan mengingat atletik merupakan cabang olahraga terukur sehingga kekuatan setiap atlet dapat dibandingkan melalui catatan waktu, jarak, maupun tinggi.

“Walaupun ada kejutan, nanti dapat perunggu, dapat perak ya Alhamdulillah,” ujar Mustara.

Baca juga: Atletik Indonesia siapkan 13 atlet menuju Asian Games 2026

Indonesia memiliki catatan medali dari cabang atletik dalam sejumlah edisi Asian Games. Maria Natalia Londa yang kembali dipersiapkan menuju Aichi-Nagoya pernah mempersembahkan emas lompat jauh putri pada Asian Games Incheon 2014 dengan lompatan 6,55 meter.

Empat tahun kemudian pada Asian Games Jakarta-Palembang 2018, atletik Indonesia meraih dua medali perak dan satu perunggu.

Emilia Nova merebut perak nomor 100 meter gawang putri dengan catatan 13,33 detik, sedangkan tim estafet 4x100 meter putra yang diperkuat Fadlin, Lalu Muhammad Zohri, Eko Rimbawan, dan Bayu Kertanegara juga meraih perak dengan waktu 38,77 detik.

Sapwaturrahman melengkapi perolehan medali atletik Indonesia dengan perunggu lompat jauh putra setelah mencatat lompatan 8,09 meter.

Namun, pada Asian Games Hangzhou 2022 yang berlangsung pada 2023, atletik belum mampu menyumbangkan medali untuk Indonesia.

Sejumlah atlet tetap mampu menembus jajaran atas. Zohri menempati peringkat keenam final 100 meter putra dengan catatan 10,16 detik, sedangkan tim estafet 4x100 meter putra finis kelima dengan waktu 39,25 detik.

Robi Syianturi yang kembali masuk dalam tim untuk Aichi-Nagoya juga menempati peringkat kedelapan nomor 10.000 meter dengan waktu 29 menit 55,31 detik.

Menjelang Asian Games 2026, program uji tanding atlet disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing nomor.

Mustara mengatakan tim atletik tidak memiliki satu program try out nasional khusus menuju Aichi-Nagoya.

Sejumlah rencana uji coba, termasuk keberangkatan kelompok atlet ke Melbourne, Australia, tidak terlaksana.

PB PASI kemudian menyesuaikan program dengan memberikan kesempatan kepada pelatih memilih kompetisi berdasarkan kebutuhan atlet.

Sejumlah ajang seperti Jateng Open, Jatim Open, Filipina Open, dan Singapura Open menjadi pilihan untuk menguji perkembangan atlet sebelum tampil di Asian Games.

Sebagian kebutuhan persiapan tersebut juga dilengkapi melalui pembiayaan mandiri PB PASI.

Baca juga: PASI alihkan pelatnas mandiri untuk persiapan Asian Games 2026

Pewarta: Muhammad Ramdan
Editor: Irwan Suhirwandi
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |