Jakarta (ANTARA) - Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni mengatakan tiga taman nasional (TN) yang resmi berstatus Badan Layanan Umum (BLU) mendorong model pendanaan yang lebih inovatif untuk memperkuat pengelolaan kawasan konservasi.
Menhut dalam keterangannya di Jakarta, Kamis, mengatakan ketiga TN tersebut yakni Taman Nasional Komodo, Taman Nasional Gunung Rinjani, dan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.
Raja Antoni mengatakan pembentukan BLU memungkinkan pendapatan yang dihasilkan dari masing-masing taman nasional dapat kembali dimanfaatkan untuk kawasan tersebut. Selama ini, penerimaan dari tiket masuk wisata tercatat sebagai Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dan masuk ke kas negara, sehingga belum tentu seluruhnya kembali untuk mendukung pengelolaan kawasan konservasi.
“Dengan BLU ini, apa yang didapatkan di Komodo, Rinjani, dan Bromo Tengger Semeru itu bisa balik lagi kepada alam. Untuk memperbaiki sarana prasarana, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, konservasi, dan lain sebagainya,” ujar Menhut Raja Antoni.
Ia menyebut penetapan tiga taman nasional sebagai BLU merupakan hasil kerja cepat Satgas Pembiayaan Taman Nasional yang baru dibentuk.
Baca juga: Pemerintah perkuat ekosistem-kesejahteraan lewat inovasi pembiayaan TN
“Ini salah satu keberhasilan satgas ini. Baru terbentuk, langsung kita proses untuk BLU, ternyata tiga ini sudah bisa langsung disetujui oleh Kementerian Keuangan dan menjadi BLU,” ujarnya.
Lebih lanjut, Menhut Raja Antoni menambahkan, pemerintah juga mulai mengembangkan skema pembiayaan kreatif melalui blended financing, yakni pendanaan yang mengombinasikan dukungan APBN dengan pembiayaan dari sektor swasta, filantropi, maupun investasi.
Menurutnya, pendekatan ini akan memperkuat pendanaan konservasi tanpa hanya bergantung pada anggaran negara.
Sementara itu, Ketua Satgas Pembiayaan Taman Nasional Hashim Djojohadikusumo mengatakan satgas dibentuk untuk mencari terobosan pembiayaan bagi 57 taman nasional di Indonesia.
Ia menyebut Presiden menginginkan pengelolaan seluruh taman nasional diperkuat melalui skema pendanaan yang inovatif dan berkelanjutan.
“Presiden punya ide kalau bisa seluruh 57 taman nasional kita cari cara-cara khusus, inovatif untuk membiayai,” kata Hashim.
Baca juga: Menhut: Satgas Pembiayaan TN pacu pengembangan ekowisata berkelanjutan
“Melindungi alam, menyejahterakan masyarakat, dan membangun masa depan Indonesia merupakan satu kesatuan. Inovasi pembiayaan dibutuhkan agar upaya konservasi dapat berlangsung secara berkelanjutan serta memberikan manfaat yang nyata dan berkeadilan bagi masyarakat sekitar kawasan,” imbuhnya.
Senada, Wakil Ketua Bidang Investasi Mari Elka Pangestu menegaskan skema pembiayaan tersebut bukan bertujuan mengomersialkan taman nasional.
Menurutnya, pendanaan baru justru diarahkan untuk memperkuat konservasi, melindungi keanekaragaman hayati dan ekosistem, serta menjaga spesies-spesies prioritas Indonesia yang terancam punah.
Selain itu, pemanfaatan jasa lingkungan (ecosystem services) juga diharapkan dapat memberikan manfaat berkelanjutan bagi kawasan konservasi maupun masyarakat di sekitarnya.
Pewarta: Arnidhya Nur Zhafira
Editor: Evi Ratnawati
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































