Menbud sebut tradisi lisan bagian dari program pemajuan kebudayaan

1 day ago 7

Jakarta (ANTARA) - Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengatakan bahwa tradisi lisan merupakan salah satu dari sepuluh obyek dari program pemajuan kebudayaan yang memerlukan upaya pelindungan berkelanjutan agar tetap hidup di tengah masyarakat.

"Upaya tersebut memerlukan ruang-ruang perjumpaan yang mempertemukan para maestro, tetua adat, dan generasi muda agar proses transmisi pengetahuan terus berlangsung. Selain itu, penggunaan bahasa daerah dalam kehidupan sehari-hari perlu terus diperkuat, disertai dukungan kepada para pelaku budaya agar dapat terus mewariskan pengetahuan kepada generasi berikutnya,” ujar Menteri Kebudayaan dalam keterangan yang dikonfirmasi dari Jakarta, Kamis.

Ia menegaskan bahwa kebijakan Kementerian Kebudayaan memposisikan kebudayaan dalam empat fungsi utama, yaitu sebagai daya ikat bangsa, sumber identitas dan karakter bangsa, kekuatan ekonomi melalui ekonomi budaya, serta instrumen diplomasi dan soft power Indonesia.

Baca juga: Kementerian Kebudayaan akan hadirkan gerakan Indonesia bercerita

Menbud juga menilai bahwa perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan artifisial (AI), menghadirkan tantangan sekaligus peluang bagi pelestarian tradisi lisan. Teknologi seperti pengenalan suara (speech recognition), dokumentasi digital, revitalisasi tradisi lisan dalam berbagai bahasa daerah, language modeling, digitalisasi arsip, hingga pengembangan bahan ajar dapat dimanfaatkan untuk memperkuat upaya pelindungan dan pewarisan tradisi lisan.

“Selama tradisi lisan masih dituturkan, ingatan budaya Indonesia akan tetap hidup. Karena itu, mari kita tempatkan pengetahuan tradisional sebagai bagian dari warisan budaya tradisi dan sumber daya untuk membaca persoalan hari ini sekaligus membangun masa depan yang berkelanjutan,” ujar Fadli.

Baca juga: Gala Cerita Rakyat jadi langkah merawat cerita lewat tradisi lisan

Seminar, lanjut dia, menjadi salah satu media untuk menjaga, mengembangkan, dan mewariskan tradisi lisan sebagai bagian dari Warisan Budaya Takbenda (WBTb).

“Tradisi lisan memiliki banyak jenis, di antaranya patra, mantra, doa, syair, nyanyian, silsilah, kisah asal usul, petatah petitih, hingga pertunjukan yang menjadi wahana untuk menata hubungan sosial, membaca alam, hingga mengingat peristiwa dan meneruskan nilai-nilai kehidupan," kata dia.

Ketua Umum Asosiasi Tradisi Lisan, Pudentia MPSS mengatakan bahwa lewat seminar, masyarakat bisa melihat tradisi lisan sebagai pengetahuan yang terus hidup.

Baca juga: Masyarakat Suwawa menggiatkan kembali tradisi lisan Legedo

Baca juga: Budayawan sarankan agar tradisi lisan dihadirkan di tingkat sekolah

Pewarta: Sinta Ambarwati
Editor: Siti Zulaikha
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |