Menanam hijau, memanen laut

1 hour ago 3
Krisis lingkungan tidak selalu harus dijawab dengan proyek raksasa yang mahal. Kadang, solusi justru tumbuh dari kemampuan mengembalikan keseimbangan yang pernah hilang.

Surabaya (ANTARA) - Angin pesisir di Kota Surabaya, Jawa Timur tak lagi hanya membawa aroma asin laut dan lumpur tambak.

Di kawasan Wonorejo hingga Gunung Anyar, angin itu juga membawa harapan baru tentang cara kota pesisir bertahan di tengah ancaman abrasi, krisis iklim, dan penyusutan ruang hidup nelayan tambak.

Harapan itu tumbuh dari akar-akar mangrove yang kini tidak lagi dipandang sebagai penghalang produktivitas, melainkan bagian dari sistem ekonomi pesisir itu sendiri.

Di tengah tekanan pembangunan kota, pesisir Surabaya menghadapi persoalan yang jamak dialami banyak kota pantai di Indonesia. Abrasi terus menggerus garis pantai, kualitas air memburuk, suhu kota meningkat, dan ekosistem pesisir perlahan kehilangan daya dukungnya. Pada saat yang sama, masyarakat tambak dituntut tetap produktif demi mempertahankan penghidupan.

Dalam situasi itulah metode silvofishery atau wanamina menemukan relevansinya. Konsep yang menggabungkan budidaya perikanan dengan penanaman mangrove itu kini mulai dikembangkan lebih serius oleh Pemerintah Kota Surabaya melalui Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) bersama Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian.

Gagasan dasarnya sederhana, tetapi dampaknya besar. Tambak tidak lagi dipisahkan dari hutan mangrove. Pohon mangrove justru ditanam dan dirawat di area budidaya agar membentuk ekosistem alami yang mendukung pertumbuhan ikan, udang, kepiting, sekaligus menjaga kualitas lingkungan pesisir.

Yang menarik, pendekatan ini lahir bukan dari romantisme konservasi semata. Surabaya mencoba membuktikan bahwa menjaga lingkungan tidak harus bertentangan dengan kepentingan ekonomi warga.

Baca juga: ITS-BRIDA inisiasi laboratorium hidup mangrove di Surabaya


Akar kehidupan

Selama bertahun-tahun, banyak kawasan mangrove di Indonesia ditebang demi perluasan tambak konvensional. Mangrove dianggap mengurangi ruang produksi dan mempersempit area budidaya. Akibatnya, banyak pesisir kehilangan benteng alaminya terhadap abrasi dan intrusi air laut.

Padahal, berbagai penelitian menunjukkan mangrove memiliki fungsi ekologis yang jauh lebih kompleks. Akar mangrove mampu menahan sedimen, menyerap karbon, menjadi tempat pemijahan ikan, sekaligus menjaga kestabilan kualitas air. Ekosistem itu menciptakan rantai kehidupan yang justru mendukung produktivitas perikanan.

Surabaya mulai membaca ulang hubungan tersebut. Pengalaman panen bandeng di kawasan mangrove Wonorejo pada 2021 menjadi salah satu contoh awal. Dari tambak berbasis silvofishery seluas sekitar satu hektare, kawasan itu mampu menghasilkan sekitar 1,25 ton bandeng dan udang vaname. Angka itu menunjukkan bahwa integrasi mangrove tidak otomatis menurunkan hasil budidaya.

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |