Jakarta (ANTARA) - Yayasan Kinarya Anak Bangsa menyampaikan pentingnya konsep health dan ecotourism yang didasarkan pada kaidah konservasi lingkungan, tanah, dan air.
Konsep health tourism dan ecotourism yang disertai dengan kaidah konservasi lingkungan tersebut diharapkan berkelanjutan dan lebih memberikan dampak bagi ekonomi.
"Maupun berdampak kepada hidup yang lebih baik bagi masyarakat dan kehidupan alam," kata Pendiri Kinarya Anak Bangsa Rosita Yuwanasari Suwardi Wibawa dalam keterangan diterima di Jakarta, Rabu.
Kinarya Anak Bangsa merupakan sebuah yayasan yang bergerak di bidang lingkungan, sosial hingga inklusi hukum keluarga yang tercatat memperoleh status Special Consultative in Economic and Social Council Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sejak 2024.
Konsep itu juga disampaikan Kinarya Anak Bangsa dalam rapat terkait pengembangan health tourism yang difasilitasi oleh Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Olah Raga dan Pariwisata Kabupaten Klaten, Jawa Tengah beberapa waktu lalu.
Rapat melibatkan para pemangku kepentingan terkait, mulai dari Dinas Kesehatan Kabupaten Klaten, rumah sakit, dan para dokter.
Kemudian, yayasan, asosiasi, para ahli kesehatan dan pariwisata, komunitas pelaku wisata air, dan Kamar Dagang dan Industri (Kadin), dan lain-lain.
Lebih lanjut, Rosita juga menyoroti soal posisi Kabupaten Klaten yang berada di tengah Kota Solo dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang menjual keramaian dalam bidang pariwisatanya.
Ia mengusulkan agar Kabupaten Klaten lebih mengusung konsep keheningan, wellness, dan kesehatan jiwa raga.
"Juga mendorong penelitian terkait dengan pariwisata, lingkungan, sejarah Kerajaan Mdang (Medang) atau Mataram Kuno di Klaten, sejarah Sunan Pandanaran atau Sunan Bayat. Juga banyaknya mata air dan temuan peninggalan candi-candi di Klaten untuk dirangkai dalam konsep wisata," tutur Rosita.
Sementara itu, Guru Besar Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (UGM) Laksono Trisnantoro, yang juga hadir dalam rapat menyampaikan bahwa ada juga layanan wisata dengan tajuk wisata tidur.
Hal itu memunculkan diskusi mengenai gagasan untuk meneliti lebih lanjut mengenai sleeping disorder atau gangguan tidur yang nantinya dapat dijadikan landasan layanan wisata tidur dapat ditawarkan kepada para pengguna wisata di Klaten.
Baca juga: RajaMICE bakal gelar "Indonesia Travel Fair 2026"
Baca juga: KEK Pariwisata Kesehatan Internasional Batam mulai dikembangkan 2025
Baca juga: Gubernur: Sulut destinasi "Health Tourism" kawasan timur Indonesia
Pewarta: Benardy Ferdiansyah
Editor: Agus Setiawan
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































