Jurnalisme sebagai terapi yang dibayar

1 hour ago 2
Terapi tidak membuatnya lembek; ia membuatnya tahan uji. Dan dalam ketahanan itulah, kepercayaan publik menemukan alasannya

Jakarta (ANTARA) - Ada orang datang ke terapi untuk disembuhkan. Ada pula yang datang ke ruang redaksi untuk bertahan hidup. Bedanya tipis: yang satu membayar, yang lain justru dibayar. Keduanya sama-sama mencari satu hal, cara berdamai dengan kenyataan yang tak selalu ramah.

Tidak semua profesi bekerja semata dengan otot dan jam kantor. Jurnalisme termasuk kerja yang menuntut kehadiran batin: menyimak, menimbang, dan memutuskan apa yang layak dipercaya publik.

Di sini, keterampilan teknis, menulis, merekam, memverifikasi, berjalan berdampingan dengan kemampuan yang lebih sunyi: membaca situasi, menjaga jarak, dan menahan diri.

Seorang jurnalis hadir di peristiwa sebagai pengamat yang terlibat secukupnya. Ia harus cukup dekat untuk memahami, tetapi cukup jauh untuk tidak larut. Ketegangan itu bukan drama personal; ia adalah prasyarat kerja.

Fakta tidak datang dalam kondisi steril. Ia tiba bersama emosi narasumber, kepentingan pihak-pihak terkait, dan keterbatasan waktu. Menjalankan tugas di tengah kepadatan itu menuntut kewaspadaan yang konsisten.

Karena itu, kelelahan yang kerap menyertai kerja jurnalistik lebih tepat dipahami sebagai konsekuensi struktural, bukan keluhan personal. Bukan karena jurnalis “terlalu perasa”, melainkan karena pekerjaan ini mengharuskan perhatian mendalam dan berkelanjutan.

Setiap liputan meminta penilaian berlapis: apa yang relevan, apa yang berimbang, dan apa dampaknya bila dipublikasikan. Proses menimbang tersebut menguras fokus, bukan emosi.

Di sinilah jurnalisme mulai menyerupai terapi dalam arti yang paling sederhana: sebuah latihan rutin untuk menghadapi kenyataan, tanpa menutup mata. Terapi bukan janji ketenangan instan; ia adalah proses mengelola paparan.

Jurnalis terpapar peristiwa, baik yang banal maupun yang mengguncang, lalu menatanya menjadi pengetahuan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Pada tahap ini, menulis berfungsi sebagai mekanisme kerja: menyusun ulang yang berantakan, memberi bentuk pada yang berserak, dan menetapkan batas pada yang berlebihan. Ia bukan katarsis, melainkan disiplin.

Dengan disiplin itu, jurnalisme menjaga dirinya tetap jernih, cukup peka untuk memahami, cukup teguh untuk memutuskan. Dari sini, kita dapat melihat bahwa kerja batin bukan beban tambahan, melainkan inti profesi ini.

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |