Invesnesia: Diversifikasi multi-aset jadi opsi saat global tak pasti

2 hours ago 2
Dalam situasi global yang penuh volatilitas seperti saat ini, investor tidak cukup hanya mengandalkan satu jenis aset

Jakarta (ANTARA) - Platform riset dan edukasi investasi Invesnesia menilai diversifikasi lintas aset dapat menjadi salah satu opsi bagi investor dalam menghadapi ketidakpastian global yang meningkat belakangan ini.

Head of Research Invesnesia Alfatur mengatakan ketegangan geopolitik, volatilitas harga komoditas, serta perubahan kebijakan moneter global memberi tekanan terhadap pasar keuangan, termasuk pasar saham.

“Dalam situasi global yang penuh volatilitas seperti saat ini, investor tidak cukup hanya mengandalkan satu jenis aset,” kata Alfatur berdasarkan keterangannya di Jakarta, Minggu.

Ia menjelaskan tekanan pasar tersebut tercermin antara lain dari pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dan fluktuasi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam beberapa periode terakhir.

Menurut dia, kondisi tersebut menunjukkan investor perlu memiliki perspektif yang lebih luas, tidak hanya terhadap pergerakan pasar domestik, tetapi juga hubungan antara pasar saham lokal dan dinamika ekonomi global.

Baca juga: Indodax edukasi masyarakat aset kripto sebagai investasi digital

Baca juga: Indef: Investor akan beralih aset aman di tengah ketidakpastian tarif

Dalam konteks itu, pendekatan investasi multi-aset dinilai relevan karena tidak hanya berfokus pada saham domestik, tetapi juga membuka peluang pada aset global seperti saham internasional, komoditas dan instrumen keuangan alternatif.

"Diversifikasi multi-aset memungkinkan investor untuk mengurangi risiko konsentrasi sekaligus membuka peluang pertumbuhan dari berbagai sektor ekonomi yang berbeda," ujarnya.

Menurut analisis tim riset Invesnesia, diversifikasi investasi tidak hanya berfungsi sebagai strategi perlindungan risiko, tetapi juga dapat menjadi cara untuk menangkap peluang pertumbuhan dari berbagai sektor ekonomi global.

Alfatur menambahkan pasar saham Indonesia memang didukung fundamental ekonomi yang relatif stabil, dengan pertumbuhan ekonomi sekitar 5 persen per tahun.

Namun, dalam sistem keuangan yang semakin terintegrasi, pergerakan pasar domestik disebut tetap dipengaruhi faktor eksternal, termasuk perubahan suku bunga global yang dapat memicu arus keluar modal dari negara berkembang.

Ia menilai investor yang memiliki eksposur pada berbagai kelas aset umumnya memiliki fleksibilitas yang lebih baik dalam mengelola risiko portofolio.

Selain itu, komoditas seperti emas dan energi juga dinilai kerap menjadi pilihan saat ketidakpastian ekonomi global meningkat, karena dalam beberapa periode krisis pergerakannya cenderung berbeda dengan pasar saham.

Alfatur menyebut pemahaman mengenai hubungan antar aset menjadi semakin penting agar investor tidak terjebak pada risiko konsentrasi di satu pasar atau satu instrumen saja.

Melalui pendekatan berbasis riset dan literasi keuangan, investor diharapkan mampu mengambil keputusan investasi yang lebih rasional dan berorientasi jangka panjang di tengah integrasi pasar global yang semakin kuat.

Akses investor Indonesia yang semakin terbuka terhadap berbagai instrumen keuangan global juga dinilai menjadi peluang untuk membangun portofolio yang lebih seimbang dan semakin besar.

Baca juga: Analis proyeksi pasar investasi global lanjutkan tren positif di 2026

Baca juga: Ekonom prediksi investasi emas turun 2026 jika ekonomi global membaik

Pewarta: Aria Ananda
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |