Medan (ANTARA) - Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara (USU) Prof Dr Ir Diana Chalil MSi Phd mendukung model korporasi petani kelapa sawit di tengah lahan yang semakin terfragmentasi.
Menurutnya, korporatisasi perkebunan rakyat menjadi langkah krusial dalam memperkuat posisi tawar petani kelapa sawit swadaya di tengah makin mengecilnya skala kepemilikan lahan nasional.
"Melalui tata kelola kelembagaan yang terintegrasi, petani swadaya berpeluang besar meningkatkan produktivitas sekaligus memperluas akses pasar ekspor global," tegas Prof Diana dalam diskusi uji publik bertajuk “Kemitraan Petani-Perusahaan Dalam Membangun Petani Yang Handal dan Kompetitif, Melalui Intensifikasi Lahan dan Industrialisasi" digelar Rumah Sawit Indonesia bekerja sama dengan Universitas Sumatera Utara di Medan, Selasa.
Dalam paparannya yang bertajuk “Korporatisasi & Kemitraan Sebagai Alternatif Peningkatan Posisi Perkebunan Rakyat dalam Rantai Pasok”, Prof Diana menyoroti tantangan struktur kepemilikan lahan di Indonesia.
Berdasarkan data nasional sebanyak 17,25 juta atau 61,3 persen rumah tangga usaha pertanian mengelola lahan kurang dari 0,5 hektare pada 2023 atau melonjak sekitar 21,03 persen dibandingkan pada 2013.
Tantangan tersebut kian memprihatinkan karena jumlah petani sangat gurem dengan kepemilikan lahan di bawah 0,1 hektare melonjak hingga 70 persen, yakni mencapai 7,39 juta orang.
"Fragmentasi lahan yang tinggi ini membatasi efisiensi operasional dan memperlemah bargaining position petani saat berhadapan dengan rantai pasok industri," kata Prof Diana.
Guna mengatasi persoalan efisiensi akibat minimnya kepemilikan lahan, pihaknya menawarkan konsep korporatisasi petani yang dibangun di atas enam pilar utama.
Keenam pilar utama itu mencakup pemenuhan skala usaha minimum, penerapan single management, perencanaan jangka panjang, kepastian legalitas usaha, adopsi teknologi modern, serta penguatan jejaring atau kemitraan strategis.
Baca juga: BPDP dukung korporatisasi petani sawit berkelanjutan
Baca juga: Indonesia siap perkuat petani sawit di tingkat global melalui WCOPS
Menurut Prof Diana, dalam praktiknya, model kemitraan inti-plasma dinilai berpotensi besar menjadi fondasi korporatisasi petani modern dengan penyesuaian pada aspek awal kepemilikan lahan.
"Pola ini memungkinkan petani swadaya mengonsolidasikan manajemen perkebunan mereka tanpa kehilangan hak atas lahan individual,” ujar dia.
Menurutnya, pengembangan korporasi tani dapat dimulai menggunakan pendekatan top-down, khususnya bagi kelompok pemula guna membangun fondasi manajerial awal.
Namun, target akhirnya adalah mentransformasikan kelembagaan menjadi pendekatan bottom-up agar terbentuk unit usaha yang mandiri, berdaya saing tinggi, dan berkesinambungan dalam jangka panjang.
Prof Diana juga menambahkan, pendekatan bottom-up ini mensyaratkan kapasitas dasar kelembagaan yang lebih matang dibandingkan kelompok tani konvensional.
Oleh karena itu, program pengembangan kapasitas yang terencana dan konsisten bagi pengurus dan anggota kelompok tani menjadi kunci utama kelancaran transisi tersebut.
Pihaknya juga menekankan, pentingnya kemitraan strategis dengan perusahaan perkebunan sebagai akselerator peningkatan kapasitas.
"Kemitraan tidak hanya mencakup pendampingan teknis dan manajerial, tetapi juga mempermudah edukasi kelembagaan serta membuka akses finansial dan pasar yang lebih adil bagi para petani perkebunan rakyat," tutur Prof Diana.
Baca juga: Kemenko Pangan prioritaskan penguatan hulu sawit berkelanjutan
Baca juga: Indonesia siap perkuat petani sawit di tingkat global melalui WCOPS
Pewarta: Muhammad Said
Editor: Budhi Santoso
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
















































