Fadli Zon sebut sejarah menjadi substansi penting lagu perjuangan

4 hours ago 2

Jakarta (ANTARA) - Menteri Kebudayaan Fadli Zon menilai sejarah dibalik penciptaan lagu-lagu perjuangan merupakan substansi yang paling diperhatikan Kementerian Kebudayaan saat pembuatan aransemen baru lagu "Hari Merdeka" yang digarap Erwin Gutawa.

Saat diskusi dalam rangkaian peluncuran baru lagu "Hari Merdeka" yang disiarkan TVRI dan dipantau dari Jakarta, Minggu malam, Fadli Zon menjelaskan pada masa proklamasi, penyebaran informasi tidak secepat masa modern sehingga masyarakat di berbagai daerah baru mendapatkan kabar kemerdekaan beberapa hari, bahkan beberapa bulan setelah proklamasi.

"Berita kemerdekaan juga enggak langsung hari itu juga, itu ada yang seminggu, ada yang beberapa hari, ada yang berbulan-bulan berbulan-bulan," kata Fadli Zon.

Baca juga: Sejumlah menteri peringati HUT ke-81 RI bersama warga di NTT

Lagu-lagu perjuangan merekam secara utuh informasi dan suasana perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Sang menteri mencontohkan salah satu contoh bagaimana peristiwa terekam dalam lagu perjuangan "Berkibarlah Benderaku" oleh Saridjah Niung, atau yang lebih dikenal dengan nama Ibu Sud.

Menbud Fadli Zon menjelaskan lagu tersebut terinspirasi langsung dari peristiwa nyata penodongan tentara Jepang terhadap tokoh penyiaran kemerdekaan Jusuf Ronodipuro.

"Jadi, artinya lagu merekam sejarah. Jadi, bukan bukan hanya sekadar khayalan, imajinasi," ujar Fadli.

Substansi penting dalam lagu "Hari Merdeka" karya Husein Mutahar adalah menjaga semangat keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang sempat diuji hingga tahun 1949. Pada masa itu, tanah air sempat beralih menjadi negara serikat atau federasi akibat taktik dari Belanda untuk memecah-belah Indonesia.

"Ada konteks sejarahnya itu hidup di situ. Dan memang waktu itu lagu Hari Merdeka mau menyatukan rakyat Indonesia karena kita masih berusaha dipecah-belah," kata Fadli Zon.

Aransemen baru lagu lagu perjuangan itu melibatkan kolaborasi musisi lintas generasi, seperti Ahmad Albar, Ardhito Pramono, Harvey Malaihollo, Judika, Novia Bachmid, Rita Butar Butar, Ruth Sahanaya, Shabrina Leanor, Titik Hamzah, dan Vina Panduwinata.

Baca juga: Menbud sebut tradisi lisan bagian dari program pemajuan kebudayaan

Baca juga: Menteri Kebudayaan siapkan Museum Musik Indonesia di Bandung

Baca juga: Kementerian Kebudayaan luncurkan video aransemen baru "Hari Merdeka"

Pewarta: Abdu Faisal
Editor: Natisha Andarningtyas
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |