Dari hilirisasi mineral ke hilirisasi talenta

17 hours ago 1
sejarah juga menunjukkan bahwa bonus demografi bukanlah jaminan keberhasilan

Jakarta (ANTARA) - Indonesia sedang berada pada momentum yang sangat menentukan. Bonus demografi yang diproyeksikan berlangsung hingga 2045 memberikan peluang besar bagi bangsa ini untuk melompat menjadi negara maju.

Dalam rentang waktu tersebut, jumlah penduduk usia produktif akan jauh lebih besar dibandingkan usia nonproduktif. Kondisi ini merupakan modal yang tidak dimiliki semua negara.

Namun, sejarah juga menunjukkan bahwa bonus demografi bukanlah jaminan keberhasilan. Banyak negara gagal memanfaatkannya karena tidak mampu menyiapkan sumber daya manusia yang berkualitas.

Alih-alih menjadi kekuatan ekonomi, ledakan penduduk usia produktif justru berubah menjadi beban sosial ketika lapangan kerja, keterampilan, dan kualitas pendidikan tidak berkembang seiring perubahan zaman.

Oleh sebab itu, investasi terbesar yang harus dilakukan Indonesia bukan semata pada pembangunan fisik, melainkan pada pembangunan manusianya.

Pendidikan, penguasaan teknologi, pembentukan karakter, serta kemampuan beradaptasi harus menjadi fondasi utama.

Investasi semacam ini memang tidak selalu menghasilkan dampak dalam waktu singkat, tetapi manfaatnya akan menentukan arah perjalanan bangsa selama puluhan tahun ke depan.

Pandangan tersebut penulis sampaikan dalam Sidang Terbuka Penerimaan Mahasiswa Baru Institut Teknologi Bandung Tahun Akademik 2026/2027 di hadapan lebih dari 3.000 mahasiswa baru.

Hemat penulis, perguruan tinggi merupakan salah satu titik awal yang sangat penting untuk membentuk kapasitas kepemimpinan generasi muda.

Kampus tidak hanya menghasilkan lulusan yang menguasai disiplin ilmu tertentu, tetapi juga menjadi ruang lahirnya cara berpikir baru, keberanian mengambil keputusan, serta kemampuan menghadapi kompleksitas persoalan yang terus berkembang.

Di era AI, perubahan tidak lagi berlangsung secara bertahap, melainkan eksponensial. Pekerjaan yang hari ini dianggap aman dapat berubah dalam hitungan tahun.

Keterampilan teknis yang dipelajari saat ini mungkin akan tergantikan oleh teknologi baru dalam waktu yang relatif singkat. Oleh sebab itu, kemampuan yang paling berharga bukan lagi sekadar menguasai satu bidang ilmu, melainkan kemampuan untuk terus belajar, beradaptasi, dan menemukan solusi baru.

Ada tiga nilai yang perlu dimiliki generasi muda agar mampu tetap relevan di tengah perubahan tersebut.

Pertama adalah distinctive, yakni keberanian menghadirkan perspektif baru. Dunia tidak membutuhkan lebih banyak orang yang hanya mampu mengulang apa yang sudah dilakukan orang lain.

Kemajuan justru lahir dari mereka yang mampu melihat persoalan dari sudut pandang berbeda dan menawarkan solusi yang belum pernah terpikirkan sebelumnya.

Nilai kedua adalah adaptive. Perubahan adalah satu-satunya kepastian di era modern. Oleh karena itu, kemampuan belajar sepanjang hayat menjadi modal yang jauh lebih penting dibandingkan sekadar mengandalkan pengetahuan yang diperoleh di bangku kuliah.

Mereka yang mampu beradaptasi akan selalu menemukan ruang untuk berkembang, bahkan ketika teknologi terus berubah.

Nilai ketiga adalah inclusive. Hampir tidak ada inovasi besar yang lahir dari kerja individu semata. Penemuan dan kemajuan selalu merupakan hasil kolaborasi berbagai disiplin ilmu, institusi, dan latar belakang yang berbeda.

Kemampuan bekerja sama, menghargai keberagaman gagasan, serta membangun kepercayaan menjadi kompetensi yang semakin penting di masa depan.


Tiga prinsip power

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |