BPOM: Apoteker perlu kuasai ATMP & living therapy, dukung ketahanan RI

12 hours ago 7
Membangun ketahanan kesehatan memerlukan pendekatan komprehensif yang perlu berakselerasi dari pendekatan kuratif dan sektoral menuju kuratif preventif, kolaboratif, serta lintas sektor

Jakarta (ANTARA) - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengatakan seiring perkembangan teknologi peran apoteker juga semakin strategis sehingga perlu memahami perkembangan produk biologi, termasuk obat terapi lanjutan (ATMP) dan living therapy guna memperkuat ketahanan kesehatan nasional.

"Ketahanan kesehatan menjadi bagian tidak terpisahkan dari ketahanan nasional suatu bangsa. Membangun ketahanan kesehatan memerlukan pendekatan komprehensif yang perlu berakselerasi dari pendekatan kuratif dan sektoral menuju kuratif preventif, kolaboratif, serta lintas sektor," kata Kepala BPOM Taruna Ikrar di Jakarta, Jumat.

Dia mengatakan apoteker adalah salah satu mitra strategis BPOM dalam memastikan obat dan produk kesehatan yang beredar memenuhi aspek keamanan, mutu, dan khasiat.

Apoteker juga mengawal penggunaan obat secara rasional, mengedukasi masyarakat, serta memantau keamanan produk melalui pelaporan efek samping dan pemantauan produk setelah beredar.

Baca juga: BPOM: Regulasi adaptif jadi kunci hilirisasi riset farmasi RI

Untuk memperkuat ketahanan nasional, kata Taruna, salah satu caranya melalui pendekatan one health yang mengintegrasikan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan.

Kemudian, lanjutnya, regulatory science berfungsi sebagai fondasi pendekatan one health yang menjembatani perkembangan sains dan teknologi dengan kebijakan publik berbasis analisis risiko dan bukti ilmiah.

"Dengan one health akan membentuk health society hingga terbentuknya ketahanan kesehatan secara nasional untuk Indonesia Maju," ujar Taruna Ikrar.

Indonesia, kata dia, memiliki modal yang sangat besar, mulai dari populasi, demografi, kekayaan alam, hingga biodiversitas. Faktor tersebut menjadi modal bagi Indonesia untuk menjadi pusat inovasi obat dan makanan.

Regulatory science memfasilitasi lahirnya inovasi agar hasil penelitian tidak berhenti di laboratorium, tetapi dapat dihilirisasi menjadi produk yang aman, bermutu, bermanfaat, dan berdaya saing.

Baca juga: BPOM kuatkan hilirisasi siapkan RI jadi pusat ATMP Asia Pasifik

“Jika seluruh elemen tersebut bergerak dalam satu ekosistem, kolaborasi akan menghasilkan dampak nyata yaitu perlindungan masyarakat yang lebih optimal, meningkatnya daya saing dan kemandirian industri nasional, sistem kesehatan yang semakin tangguh dan berkelanjutan, serta meningkatnya kepercayaan terhadap produk Indonesia di tingkat global,” katanya.

Oleh karena itu pihaknya mempererat kolaborasi dengan Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) dalam mendukung pengawasan obat dan makanan, sekaligus memperkuat ketahanan kesehatan nasional.

Senada, Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengatakan penguatan sektor kefarmasian menjadi bagian penting dalam mencapai target peningkatan kualitas kesehatan masyarakat. Pemerintah menargetkan rata-rata usia harapan hidup masyarakat Indonesia meningkat menjadi 76 tahun pada 2029.

“Sekarang usia harapan hidup masyarakat Indonesia naik menjadi 74 tahun dari tahun sebelumnya 72 tahun. Tahun 2029 kita targetkan menjadi 76 tahun, kemudian juga rata-rata hidup sehat yang dari 60 tahun ke 70 tahun. Jadi, bukan cuma menaikkan usia hidup, tetapi juga sehat dan itu butuh sinergi pemerintah dengan kefarmasian,” ujar Menkes Budi.

Baca juga: Menkes: Aturan hilirisasi dorong industri farmasi lebih maju

Pewarta: Mecca Yumna Ning Prisie
Editor: Risbiani Fardaniah
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |