Bandung (ANTARA) - Observatorium Bosscha Lembang mengungkapkan alasan fenomena langit okultasi Venus oleh Bulan pada Senin (14/9) malam menunjukkan kenampakan visual yang berbeda-beda di setiap wilayah Indonesia karena dipengaruhi sudut pandang geometri serta faktor cuaca lokal.
Peneliti Observatorium Bosscha Agus TP Jatmiko di Bandung, Jabar, Selasa, mengungkapkan perbedaan unik tersebut juga terlihat dalam siaran Livestream Pengamatan Okultasi Venus diselenggarakan Observatorium Bosscha Institut Teknologi Bandung (ITB), pukul 19.00-21.00 WIB, dengan melibatkan jaringan kolaborator dari Lampung, Bengkulu, Banten, Semarang, Lamongan, Yogyakarta, Medan, Padang, hingga Bangkok.
Ia menjelaskan perbedaan posisi tampak Venus terhadap Bulan terjadi karena posisi jarak piringan Bulan yang jauh lebih dekat ke Bumi dibandingkan jarak planet Venus.
"Bulan posisinya lebih dekat dengan Bumi dibanding Venus, itu yang menyebabkan posisi tampak kedua benda langit tersebut dapat berbeda ketika diamati dari lokasi yang berbeda," ujarnya.
Baca juga: Peneliti: Observatorium Timau bisa mengamati planet di luar tata surya
Berdasarkan pantauan jaringan pengamatan, Observatorium Astronomi ITERA Lampung (OAIL ITERA) merekam secara utuh detik-detik Venus masuk dan menghilang di balik piringan Bulan sabit sebelum muncul kembali. Hasil senada juga terlihat dari pengamatan Observatorium Bosscha di Lembang, Jawa Barat.
Namun, di Semarang, fenomena ini tampak mendekati grazing, yakni lintasan Venus hanya melintas sangat dekat di tepi piringan Bulan, sedangkan di Yogyakarta dan Lamongan, fenomena ini hanya terlihat sebagai konjungsi, di mana Venus dan Bulan sekadar berdekatan tanpa tertutup penuh.
Selain letak geografis, Agus menekankan bahwa faktor teknis dan alam menjadi penentu utama keberhasilan mendokumentasikan fenomena astronomi.
"Yang paling penting dalam pengamatan itu instrumennya siap, pengamatnya siap, dan yang terakhir cuacanya bagus," kata dia.
Faktor cuaca memberikan tantangan tersendiri bagi sejumlah tim pengamat. Di Bangkok (WRWO Space), Bulan hanya sempat terlihat selama satu menit sebelum tertutup awan tebal.
Di Medan (OIF UMSU), pengamatan terhalang hujan dan gerimis, sedangkan tim komunitas astronomi di Padang terkendala kabut tebal di ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut meskipun telah menyiapkan smart telescope.
Rangkaian pengamatan lintas daerah oleh Bosscha ITB ini menegaskan bahwa satu peristiwa astronomi dapat menghasilkan pengalaman visual beragam, sekaligus menjadi sarana edukasi mengenai geometri benda langit dan pentingnya kolaborasi pengamatan dari berbagai titik geografis.
Baca juga: Observatorium Bosscha persiapkan infrastruktur untuk kunjungan umum
Baca juga: Fenomena Equinox di planet-planet tata surya
Pewarta: Ricky Prayoga
Editor: M. Hari Atmoko
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
















































