BNPB: Survei udara petakan lanskap wilayah terdampak gempa NTT

52 minutes ago 3

Jakarta (ANTARA) - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melakukan survei udara guna memetakan lanskap wilayah terdampak gempa bumi magnitudo 7,7 di Nusa Tenggara Timur (NTT) sekaligus memvalidasi potensi dampak tsunami serta memetakan jalur distribusi bantuan logistik.

Deputi Bidang Pencegahan BNPB Abdul Muhari di Jakarta, Rabu, mengatakan bahwa pemantauan udara menggunakan helikopter tersebut dilakukan dengan menyisir wilayah pesisir utara mulai dari Labuan Bajo di Manggarai Barat, Manggarai, Manggarai Timur, Ngada, hingga Nagekeo.

"Ini kita lakukan mapping sudah selesai kita lakukan, kita berangkat dari Labuan Bajo, kemudian pesisir utara, Manggarai Barat, Manggarai, Manggarai Timur, Ngada, hingga Nagekeo," kata dia.

Abdul menjelaskan bahwa berdasarkan hasil pengamatan visual dari udara, dampak tsunami pascagempa bumi 7,7 magnitudo tersebut secara umum dikategorikan minor dan tidak menerjang kawasan permukiman secara meluas.

Landaan tsunami yang bersifat hamparan hanya teridentifikasi di dua titik, yakni di kawasan Riung serta perbatasan antara Riung dan Nagekeo, yang mana area tersebut umumnya dimanfaatkan warga sebagai tambak sehingga dampaknya tidak signifikan terhadap masyarakat.

Selain memvalidasi dampak tsunami, survei udara yang terbang di ketinggian 25 hingga 30 meter tersebut juga ditujukan untuk mendokumentasikan kerusakan serta mengidentifikasi titik penjatuhan bantuan atau dropping zone bagi warga yang bermukim di puncak perbukitan.

Alternatif penyaluran bantuan via udara menjadi pilihan utama BNPB mengingat akses menuju titik-titik pemukiman terisolasi di perbukitan tidak memungkinkan untuk ditempuh menggunakan armada angkut logistik jalur darat.

BNPB, menurut Abdul memastikan hasil survei udara ini akan diperkuat dengan survei lapangan di darat guna mengoptimalkan pemetaan kerusakan bangunan serta mempercepat penyaluran logistik ke wilayah-wilayah terdampak yang sulit dijangkau.

Pewarta: M. Riezko Bima Elko Prasetyo
Editor: Wuryanti Puspitasari
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |