Bahlil tegaskan ekspor bauksit dan tembaga dilarang demi hilirisasi

12 hours ago 6

Jakarta (ANTARA) - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan pemerintah akan mempertahankan larangan ekspor bijih bauksit dan konsentrat tembaga demi menumbuhkan industri hilirisasi di dalam negeri.

“Untuk ke depan, saya pikir beberapa komoditas yang harus kami tetap pertahankan pelarangan ekspornya di antaranya bauksit, kemudian tembaga,” ujar Bahlil ketika ditemui setelah acara Peluncuran dan Bedah Buku "10 Karya Nyata untuk Negeri: Setengah Abad Bahlil Lahadalia" yang digelar di Jakarta, Jumat.

Bahlil menyampaikan pelarangan ekspor tersebut bertujuan untuk menumbuhkan industri hilirisasi bauksit dan tembaga di dalam negeri.

Industri hilirisasi di dalam negeri itu, lanjut dia, menciptakan nilai tambah bagi Indonesia, termasuk menciptakan lapangan pekerjaan dan menyumbang pertumbuhan ekonomi.

“Memang kita tidak ada cara lain, harus ada industri di dalam negeri,” ujar Bahlil.

Bahlil mendorong program hilirisasi untuk menjadi tuan di negeri sendiri, sehingga terbentuk kedaulatan dalam pengelolaan sumber daya alam.

Melalui bukunya yang berjudul “Tuan di Negeri Sendiri”, Bahlil menyoroti bagaimana hilirisasi berlangsung di daerah, namun manfaatnya hanya dirasakan oleh pemerintah pusat dan investor.

Oleh karena itu, dalam buku “Tuan di Negeri Sendiri”, Bahlil menceritakan bagaimana kelembagaan itu penting bagi hilirisasi sebagaimana yang dilakukan oleh Korea Selatan, Jepang, dan China.

Lebih lanjut, ia juga menyampaikan keuntungan hilirisasi lebih banyak dirasakan oleh pihak luar karena investor dalam program hilirisasi banyak berasal dari luar negeri.

“Ini karena bank kita enggak mau membiayai itu (hilirisasi). Alhamdulillah karena Bapak Presiden mengerti tujuan hilirisasi, sekarang yang mengelola dan membiayai hilirisasi adalah Danantara,” kata Bahlil.

Menteri Investasi dan Hilirisasi dan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Rosan Roeslani mengatakan realisasi investasi hilirisasi bauksit meningkat 193 persen menjadi Rp40,1 triliun pada kuartal II 2026 dibandingkan kuartal sebelumnya sebesar Rp13,7 triliun.

Menurut Rosan, peningkatan investasi didorong oleh pembangunan sejumlah fasilitas pengolahan dan pemurnian (smelter) bauksit oleh investor dalam negeri maupun luar negeri.

Nilai tersebut melampaui investasi hilirisasi nikel yang tercatat Rp29,4 triliun, diikuti tembaga Rp16,7 triliun, besi baja Rp13,2 triliun, pasir silika Rp4 triliun, serta komoditas lainnya seperti timah, emas, perak, kobalt, mangan, batu bara, aspal Buton, dan logam tanah jarang sebesar Rp4,7 triliun.

Secara keseluruhan, realisasi investasi hilirisasi pada kuartal II 2026 mencapai Rp152,7 triliun atau meningkat 5,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya dan menyumbang 29,8 persen terhadap total realisasi investasi nasional, yang mencapai Rp511,8 triliun.

Baca juga: Menteri Bahlil dorong hilirisasi untuk jadi tuan di negeri sendiri

Baca juga: Luhut nilai manfaat hilirisasi harus lebih adil bagi daerah penghasil

Baca juga: BP BUMN nilai hilirisasi PTPN langkah strategis kurangi impor

Pewarta: Putu Indah Savitri
Editor: Faisal Yunianto
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |