Apakah gula aren lebih baik dari gula putih? Ini faktanya

13 hours ago 5

Jakarta (ANTARA) - Belakangan ini, gula aren semakin populer sebagai pemanis alami untuk berbagai makanan dan minuman. Mulai dari kopi susu, teh, hingga aneka dessert, banyak orang memilih gula aren karena dianggap lebih sehat dibandingkan gula putih. Tak sedikit pula yang percaya bahwa gula aren lebih rendah kalori, lebih alami, dan lebih aman bagi kadar gula darah.

Namun, benarkah anggapan tersebut?

Secara umum, gula aren memang memiliki beberapa keunggulan dibandingkan gula putih. Meski begitu, bukan berarti gula aren bisa dikonsumsi sesuka hati atau dianggap sebagai pemanis yang sepenuhnya sehat. Keduanya tetap termasuk gula tambahan yang perlu dibatasi konsumsinya.

Apa itu gula aren?

Gula aren merupakan gula yang dibuat dari nira pohon aren atau enau (Arenga pinnata). Nira tersebut dipanaskan hingga mengental, kemudian dicetak atau dikristalkan menjadi gula berwarna cokelat dengan aroma khas karamel.

Banyak orang masih mengira gula aren sama dengan brown sugar. Padahal, keduanya berbeda. Brown sugar merupakan gula tebu yang dicampur kembali dengan molases setelah melalui proses pemurnian, sedangkan gula aren berasal langsung dari nira pohon aren dan diproses secara lebih alami.

Karena proses pengolahannya lebih sederhana, sebagian kandungan mineral alami pada gula aren masih dapat dipertahankan.

Baca juga: Testoteron rendah dan konsumsi gula tinggi bisa picu bahaya bagi tubuh

Baca juga: Ini 7 tanda bahaya jika tubuh sudah terlalu banyak konsumsi gula

Kandungan kalori hampir sama

Salah satu anggapan yang paling sering beredar adalah gula aren memiliki kalori jauh lebih rendah dibandingkan gula putih. Faktanya, perbedaannya tidak terlalu signifikan.

Baik gula aren maupun gula putih sama-sama mengandung karbohidrat sederhana yang menjadi sumber energi bagi tubuh. Dari sisi jumlah kalori, keduanya hampir setara sehingga mengganti gula putih dengan gula aren tidak otomatis membuat asupan kalori menjadi jauh lebih rendah.

Artinya, jika dikonsumsi dalam jumlah yang sama, kedua jenis gula tetap dapat memberikan tambahan kalori yang cukup tinggi.

Gula aren memang mengandung lebih banyak mineral

Keunggulan utama gula aren dibandingkan gula putih terletak pada kandungan mikronutriennya.

Karena tidak melalui proses pemurnian yang intensif, gula aren masih mengandung sejumlah kecil mineral seperti kalium, magnesium, kalsium, dan zat besi. Sementara itu, gula putih yang telah dimurnikan hampir tidak lagi memiliki kandungan mineral maupun vitamin.

Meski demikian, jumlah mineral tersebut sebenarnya tidak terlalu besar. Kandungannya belum cukup untuk menjadikan gula aren sebagai sumber nutrisi utama atau menggantikan kebutuhan mineral dari makanan bergizi seperti sayuran, buah, kacang-kacangan, maupun biji-bijian.

Dengan kata lain, kandungan mineral pada gula aren memang menjadi nilai tambah, tetapi manfaatnya dalam praktik sehari-hari tetap terbatas.

Baca juga: Pahami bahaya konsumsi makanan dan minuman manis berlebihan

Benarkah gula aren lebih aman untuk gula darah?

Klaim lain yang cukup populer adalah gula aren memiliki indeks glikemik (IG) lebih rendah dibandingkan gula putih.

Indeks glikemik merupakan ukuran yang menunjukkan seberapa cepat makanan meningkatkan kadar gula darah setelah dikonsumsi. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa gula aren memiliki IG yang sedikit lebih rendah sehingga kenaikan gula darah dapat terjadi lebih bertahap dibandingkan gula putih.

Meski terdengar menjanjikan, hal ini bukan berarti gula aren aman dikonsumsi dalam jumlah banyak, terutama bagi penderita diabetes.

Tubuh tetap akan memecah gula aren menjadi glukosa sehingga konsumsi berlebihan tetap dapat meningkatkan kadar gula darah. Oleh karena itu, penderita diabetes maupun orang yang berisiko mengalami diabetes tetap perlu membatasi konsumsi gula aren dan mengikuti anjuran tenaga kesehatan.

Tetap termasuk gula tambahan

Walaupun berasal dari bahan alami dan mengandung sedikit mineral, gula aren tetap masuk dalam kategori gula tambahan (added sugar). Artinya, konsumsi berlebihan tetap dapat meningkatkan risiko berbagai masalah kesehatan.

Asupan gula yang terlalu tinggi telah lama dikaitkan dengan peningkatan risiko obesitas, diabetes tipe 2, penyakit jantung, hingga kerusakan gigi. Risiko tersebut tidak hanya berasal dari gula putih, tetapi juga berlaku pada gula aren apabila dikonsumsi secara berlebihan.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahkan menyarankan agar konsumsi gula tambahan dibatasi kurang dari 10 persen dari total kebutuhan energi harian. Jika memungkinkan, jumlah tersebut sebaiknya dikurangi hingga kurang dari 5 persen atau sekitar 25 gram per hari untuk memperoleh manfaat kesehatan yang lebih optimal.

Jadi, mana yang lebih baik?

Jika harus memilih, gula aren memang dapat menjadi pilihan yang sedikit lebih baik dibandingkan gula putih karena diproses lebih alami dan masih mengandung sejumlah kecil mineral. Selain itu, terdapat indikasi bahwa gula aren memiliki indeks glikemik yang sedikit lebih rendah.

Namun, perbedaannya tidak cukup besar untuk menjadikan gula aren sebagai makanan sehat yang bisa dikonsumsi tanpa batas.

Hal yang paling penting bukanlah memilih jenis gula, melainkan mengurangi jumlah gula tambahan yang dikonsumsi setiap hari. Dengan begitu, risiko berbagai penyakit kronis dapat ditekan tanpa harus menghilangkan rasa manis sepenuhnya dari pola makan.

Jadi, jika Anda lebih menyukai rasa khas gula aren, tidak ada salahnya menjadikannya sebagai alternatif pengganti gula putih. Namun, pastikan tetap mengonsumsinya secara bijak dan dalam jumlah yang sesuai dengan anjuran.

Baca juga: Kopi hitam lebih disarankan daripada kopi plus gula aren atau latte

Baca juga: Melihat perbandingan gula putih dan gula aren untuk kesehatan

Baca juga: Tips membuat kopi instan sendiri di rumah

Pewarta: Raihan Fadilah
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |