Jakarta (ANTARA) - Cacar air umumnya hanya dialami satu kali seumur hidup karena tubuh akan membentuk kekebalan setelah terinfeksi. Namun, dalam kondisi tertentu, seseorang tetap dapat mengalami cacar air lebih dari sekali meski kasusnya tergolong jarang.
Cacar air atau varisela merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh virus Varicella-zoster (VZV). Penyakit ini ditandai dengan munculnya ruam berisi cairan yang terasa gatal, disertai demam, lemas, dan penurunan nafsu makan.
Setelah sembuh, virus tidak benar-benar hilang dari tubuh, melainkan menetap dalam keadaan tidak aktif di jaringan saraf dan dapat aktif kembali di kemudian hari sebagai herpes zoster atau cacar api.
Baca juga: Risiko transmisi penyakit infeksi bisa dicegah dengan karantina
Baca juga: Air kelapa belum terbukti dapat ringankan gatal akibat cacar air
Benarkah cacar air hanya sekali seumur hidup?
Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC) dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sebagian besar orang yang pernah terkena cacar air akan memiliki kekebalan seumur hidup sehingga tidak mengalami infeksi kembali. Meski demikian, infeksi kedua tetap dapat terjadi, meskipun kasusnya sangat jarang, terutama pada orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah.
Kementerian Kesehatan juga menjelaskan bahwa cacar air biasanya hanya terjadi satu kali seumur hidup. Namun, kemungkinan terinfeksi kembali tetap ada pada kondisi tertentu, misalnya jika respons kekebalan tubuh tidak terbentuk secara optimal atau mengalami gangguan sistem imun.
Mengapa bisa terkena cacar air lagi?
Meski jarang, beberapa kondisi berikut dapat meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami cacar air lebih dari satu kali, antara lain:
- Memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah, misalnya akibat HIV, kanker, atau penggunaan obat penekan imun.
- Infeksi pertama terjadi saat usia sangat dini sehingga pembentukan kekebalan belum optimal.
- Diagnosis pertama sebenarnya bukan cacar air, melainkan penyakit lain yang memiliki gejala serupa.
- Terjadi infeksi ulang yang sangat jarang akibat paparan virus varisela.
Baca juga: Gaya hidup sehat kunci antisipasi wabah cacar air
Baca juga: Karakteristik ruam klinis yang sering dijumpai pada penderita Mpox
Bedanya cacar air dengan herpes zoster
Banyak orang mengira herpes zoster merupakan cacar air yang muncul kembali. Padahal, keduanya merupakan kondisi yang berbeda.
Cacar air adalah infeksi pertama akibat virus Varicella-zoster. Setelah sembuh, virus tetap berada dalam tubuh dalam kondisi tidak aktif. Ketika virus aktif kembali, penyakit yang muncul adalah herpes zoster atau cacar api, bukan cacar air baru. Herpes zoster biasanya ditandai ruam yang muncul pada satu sisi tubuh disertai nyeri.
Gejala cacar air
Gejala cacar air umumnya muncul sekitar 10 hingga 21 hari setelah terpapar virus. Beberapa gejala yang sering dialami meliputi:
- Demam.
- Tubuh terasa lemas.
- Nafsu makan menurun.
- Sakit kepala.
- Ruam merah yang berkembang menjadi lepuhan berisi cairan dan terasa gatal.
Ruam biasanya akan mengering dan membentuk keropeng dalam waktu sekitar empat hingga tujuh hari.
Baca juga: Jagalah imun untuk cegah sakit saat musim hujan
Cara mencegah cacar air
Pencegahan paling efektif dilakukan melalui vaksinasi varisela sesuai rekomendasi tenaga kesehatan. Selain itu, masyarakat juga dianjurkan untuk:
- Menghindari kontak langsung dengan penderita cacar air.
- Mencuci tangan secara rutin.
- Menjaga daya tahan tubuh dengan pola hidup sehat.
- Menggunakan masker jika merawat penderita yang masih menular.
Orang yang terinfeksi cacar air sebaiknya menghindari kontak dengan bayi, ibu hamil yang belum memiliki kekebalan, serta individu dengan sistem imun lemah hingga seluruh lepuhan mengering.
Kapan perlu ke dokter?
Segera periksakan diri ke dokter apabila cacar air disertai demam tinggi berkepanjangan, sesak napas, ruam menyebar ke mata, muncul tanda infeksi pada kulit, atau terjadi pada ibu hamil, bayi baru lahir, maupun orang dengan daya tahan tubuh rendah.
Meski umumnya hanya terjadi sekali seumur hidup, cacar air tetap dapat muncul kembali pada kondisi tertentu. Oleh karena itu, menjaga daya tahan tubuh dan mendapatkan vaksinasi menjadi langkah penting untuk menurunkan risiko infeksi maupun komplkasi.
Baca juga: Kenali 7 obat tradisional untuk obati cacar air
Baca juga: IDAI anjurkan orang tua tetap mandikan anak saat terkena cacar air
Baca juga: Pasien cacar air berpotensi terkena cacar api pada masa mendatang
Pewarta: M. Hilal Eka Saputra Harahap
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































