Kesehatan tanah dan masa depan ketahanan pangan

1 week ago 7
Masa depan pertanian Indonesia tidak hanya bergantung pada banyaknya hujan yang turun, tetapi juga pada kemampuan tanah menyimpan setiap tetes air yang diterimanya.

Jakarta (ANTARA) - Beberapa pekan terakhir, kekeringan mulai dirasakan di berbagai wilayah Pulau Jawa. Sawah tadah hujan mengering lebih cepat, debit sungai menurun, embung mulai surut, dan permukaan tanah mulai memperlihatkan retakan-retakan yang semakin lebar.

Fenomena tersebut sejalan dengan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bahwa musim kemarau 2026 datang lebih awal di banyak wilayah dengan curah hujan yang cenderung berada di bawah normal.

Sebagian besar Pulau Jawa diperkirakan memasuki puncak musim kemarau pada Agustus, sementara sejumlah daerah telah mengalami awal kemarau sejak Mei. Kondisi ini meningkatkan risiko kekeringan pertanian, terutama pada lahan tadah hujan yang sangat bergantung pada curah hujan musiman.

Bagi petani, retakan tanah menjadi salah satu tanda pertama bahwa cadangan air mulai menipis; Bagi masyarakat umum, retakan tanah sering dianggap sekadar akibat cuaca panas. Namun bagi ilmuwan tanah, retakan merupakan "bahasa" yang digunakan tanah untuk menunjukkan bahwa cadangan airnya telah berkurang hingga melewati batas tertentu.

Saat hujan berhenti, air di dalam pori-pori tanah berangsur-angsur hilang melalui evaporasi dari permukaan tanah dan transpirasi tanaman. Selama kandungan air masih cukup, struktur tanah tetap stabil. Ketika kadar air terus menurun hingga melewati batas susut (shrinkage limit), volume tanah mulai mengecil. Penyusutan tersebut menimbulkan tegangan di dalam massa tanah, dan retakan terbentuk sebagai mekanisme alami untuk melepaskan tegangan tersebut.

Tidak semua tanah mengalami proses yang sama. Tanah berpasir hampir tidak pernah membentuk retakan karena tidak mengalami penyusutan volume yang berarti. Sebaliknya, tanah yang kaya mineral liat, terutama Vertisol yang didominasi mineral smektit, mampu mengembang saat basah dan menyusut kuat ketika kering sehingga retakan dapat muncul hanya dalam waktu sekitar 10–20 hari pada musim kemarau yang panas.

Tanah vulkanis yang banyak dijumpai di Indonesia umumnya mengandung mineral alofan dan imogolit yang mampu menyimpan air lebih banyak sehingga retakan biasanya muncul lebih lambat.

Baca juga: Tanah dan perubahan iklim

Retakan Dipercepat

Yang menjadi perhatian saat ini bukan semata-mata munculnya retakan tanah, melainkan kenyataan bahwa retakan tersebut semakin cepat terbentuk dibandingkan beberapa dekade lalu.

Perubahan iklim menjadi salah satu penyebab utamanya. Peningkatan suhu udara mempercepat penguapan dari permukaan tanah dan meningkatkan kebutuhan air tanaman. Kenaikan suhu sebesar satu hingga dua derajat Celsius diperkirakan mampu meningkatkan evapotranspirasi sekitar 4–10 persen. Akibatnya, cadangan air tanah lebih cepat habis sehingga tanah lebih cepat mencapai batas susut dan retakan terbentuk lebih dini.

Selain perubahan iklim, kualitas tanah di banyak lahan pertanian juga terus menurun.

Pengembalian jerami yang semakin berkurang, rendahnya penggunaan pupuk organik, pembakaran sisa tanaman, serta pemadatan tanah akibat penggunaan alat berat menyebabkan tanah kehilangan kemampuan menyimpan air. Air hujan yang turun pada musim penghujan tidak lagi dapat disimpan secara optimal sehingga tanah lebih cepat mengering ketika musim kemarau datang.

Hilangnya vegetasi penutup tanah juga memperbesar kehilangan air melalui penguapan. Kombinasi suhu yang semakin tinggi, cadangan air yang semakin sedikit, dan kualitas tanah yang menurun menyebabkan retakan tanah kini muncul lebih cepat dibandingkan sebelumnya.

Retakan tanah sesungguhnya tidak hanya mencerminkan kekeringan, tetapi juga memberikan gambaran mengenai kesehatan tanah.

Baca juga: Ilmuwan Indonesia definisikan ulang tanah dan ilmu tanah

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |