Yogyakarta (ANTARA) - Pemerintah Daerah (Pemda) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menyatakan bahwa peringatan 20 tahun Gempa Jogja harus menjadi momentum bagi seluruh pemangku kepentingan dan masyarakat untuk mengukur sejauh mana belajar dan bersiap terhadap risiko bencana.
Sekretaris Daerah (Sekda) DIY Ni Made Dwipanti Indrayanti dalam keterangan di Yogyakarta, Minggu, mengatakan belajar dari pengalaman gempa 2006, Pemda DIY terus meningkatkan kesiapsiagaan dalam menghadapi potensi bencana yang mengancam DIY.
Baca juga: 20 Tahun Gempa Yogya, Pasar Penyintas wujud pemulihan korban gempa
"Sebab, kesiapsiagaan adalah sebuah ekosistem yang mencakup infrastruktur umum yang aman dan berfungsi saat darurat, sistem informasi dan peringatan dini yang cepat, akurat dan mudah dipahami warga, serta pendidikan kebencanaan sejak dini," katanya.
Ni Made mengatakan pengalaman DIY menghadapi Gempa 2006 harus menjadi pijakan dalam membangun kebijakan kebencanaan yang lebih matang dan terarah.
Kesiapsiagaan, lanjut dia, tidak cukup hanya diwujudkan dalam bentuk tindakan sesaat, tetapi perlu ditanamkan sebagai budaya hidup di tengah masyarakat.
Dalam falsafah Jawa Eling lan waspada serta Hamemayu Hayuning Bawana menjadi pengingat bagi masyarakat untuk sadar situasi sekitar, waspada berbagai kemungkinan, serta menjaga harmoni antara manusia dan lingkungan sebagai bentuk tanggung jawab bersama.
"Mari jadikan kesiapsiagaan sebagai budaya hidup sehari-hari. Peringatan 20 tahun gempa sebagai janji bersama bahwa setiap pembangunan harus menghitung keselamatan dan setiap warga berhak hidup dalam lingkungan yang lebih siap, tangguh dan berdaya," katanya.
Sekda DIY juga mengajak masyarakat mengingat kembali peristiwa gempa 2006, ketika warga menjadi garda terdepan dalam penanganan bencana, mulai dari evakuasi, pemberian pertolongan, hingga pemulihan secara gotong-royong di tengah berbagai keterbatasan.
Dari pengalaman tersebut, solidaritas masyarakat dinilai menjadi kekuatan utama yang perlu diimbangi dengan kesiapsiagaan yang dibangun sejak dini agar risiko korban maupun kerugian dapat diminimalisasi.
Baca juga: Peneliti BRIN sebut pentingnya pengetahuan terkait gempa bumi
Baca juga: PFI gelar pameran foto Kilas Pitulas, kenang gempa Yogya-Jateng 2006
"Dari pengalaman itu kita belajar bahwa dalam bencana, korban dapat berjatuhan dalam hitungan detik. Tetapi, keselamatan hanya dapat tumbuh dari kesiapsiagaan yang dibangun secara terus-menerus, jauh sebelum bencana terjadi," katanya.
Upaya meningkatkan kesiapsiagaan bencana dilakukan tidak hanya melalui sosialisasi dan edukasi secara masif pada masyarakat, tetapi juga dengan memperluas kolaborasi bersama berbagai elemen, mematangkan kesiapan personel penyelamat.
"Serta memanfaatkan teknologi berbasis data guna mendukung kemudahan identifikasi potensi bencana dan perumusan langkah mitigasi bencana," kata Ni Made.
Pewarta: Hery Sidik
Editor: Endang Sukarelawati
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































