Analis: Dokumentasi aktivitas Teddy bentuk laporan kerja kepada publik

4 hours ago 3

Jakarta (ANTARA) - Analis komunikasi politik Hendri Satrio menyatakan dokumentasi aktivitas harian pejabat publik seperti yang dilakukan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya dapat dipahami sebagai bentuk laporan kerja kepada publik.

"Sekaligus membuka proses yang selama ini jarang terlihat oleh masyarakat," ucap Hensa, sapaan akrabnya, dalam keterangannya di Jakarta, Minggu.

Dalam video yang diunggah di akun Instagram @teddy_hq, Teddy terlihat menjalani rangkaian kegiatan sejak pagi, melakukan perjalanan dinas ke luar kota, menghadiri rapat dengan menteri hingga kembali pulang pada dini hari sekitar pukul 02.00 WIB.

Hensa mengatakan kegiatan yang ditampilkan itu justru memperlihatkan bahwa menjadi pejabat publik tidak sesederhana yang dibayangkan dan tetap tidak menjamin akan mendapat penilaian positif dari publik.

"Tidak mudah jadi pejabat seperti Teddy. Sudah kerja dari pagi, ke luar kota, lanjut rapat sampai tengah malam, pulangnya dini hari, tetapi tetap saja ada yang bergunjing. Ini realitas yang sering terjadi. Kerja keras itu tidak selalu terlihat sebagai sesuatu yang luar biasa, kadang malah dianggap biasa saja, bahkan dicurigai," katanya.

Dengan adanya tayangan tersebut, menurut dia, publik setidaknya tidak lagi sepenuhnya berspekulasi soal apakah seorang pejabat bekerja atau tidak, seperti dalam video tersebut yang aktivitasnya ditampilkan secara cukup rinci.

"Kalau aktivitasnya sudah ditunjukkan seperti itu, publik jadi punya gambaran. Mau percaya atau tetap sinis, itu soal lain, tetapi setidaknya ada proses yang dibuka daripada sebelumnya hanya menebak-nebak tanpa dasar," kata Hensa.

Kendati demikian, Hensa menyatakan wajar jika sebagian publik tetap menganggap tayangan tersebut sebagai pencitraan.

Ia menjelaskan kegiatan yang diperlihatkan dalam video-video seperti itu terkadang lebih banyak sisi proses kerja. Sementara sebagian masyarakat cenderung menilai dari hasil yang dirasakan secara langsung.

"Yang ditampilkan itu proses, rapat, perjalanan, aktivitas padat. Sementara, publik biasanya menunggu hasil konkret. Jadi, wajar kalau ada yang bilang ini pencitraan, karena bagi publik, ukuran kerja itu bukan seberapa sibuk, tetapi juga seberapa terasa dampaknya," ucap Hensa.

Namun, Hensa melihat langkah seperti video keseharian Teddy itu juga bisa menjadi pendekatan komunikasi yang dicoba oleh pejabat lain, terutama mereka yang selama ini tidak banyak mendapat perhatian publik.

Menurutnya, keterbukaan semacam itu tidak hanya menunjukkan aktivitas pribadi, tetapi juga bisa menjadi sarana untuk mengenalkan peran, tugas serta program kerja kepada masyarakat.

"Silakan saja kalau mau diikuti, terutama pejabat yang selama ini tidak kelihatan. Jadi, publik tahu dia itu siapa, apa yang dikerjakan, dan programnya apa, tetapi tetap saja, ujungnya bukan di kontennya, melainkan di hasil yang benar-benar dirasakan," ujar Hensa.

Hensa kemudian menyinggung kemungkinan adanya dinamika lain di internal pejabat negara terkait munculnya figur yang aktif dan terekspos seperti Teddy.

Menurutnya, gaya kerja yang terlihat lincah dan terbuka ke publik bisa saja memunculkan rasa tidak nyaman bagi sebagian pejabat lain yang tidak terbiasa dengan sorotan serupa.

"Bisa jadi ada juga yang resah karena ketika ada yang terlihat sangat aktif, sangat lincah menyapa masyarakat, standar itu jadi naik. Yang lain jadi tidak bisa lagi terlalu santai. Kalau masih terlihat leha-leha, bukan tidak mungkin nanti ada catatan dari pimpinan," katanya.

Ia melanjutkan situasi tersebut pada akhirnya bisa menjadi dorongan tidak langsung bagi pejabat lain untuk lebih menunjukkan kinerja mereka kepada publik.

"Jadi, kegelisahan itu mungkin bukan semata soal kontennya, tetapi karena ada pembanding. Ketika ada yang lincah, terbuka, dan terlihat bekerja, yang lain mau tidak mau harus menyesuaikan. Dalam konteks ini, bisa dibilang luar biasa, tetapi tetap harus diikuti dengan kerja nyata yang dirasakan," ujar Hensa.

Pewarta: Benardy Ferdiansyah
Editor: Didik Kusbiantoro
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |