Wamendagri: Museum bahasa perkuat Pulau Penyengat jadi magnet Kepri

3 days ago 12

Batam (ANTARA) - Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya Sugiarto mendukung pembangunan museum dan monumen bahasa di Pulau Penyengat, Tanjungpinang sebagai upaya memperkuat daya tarik sejarah dan budaya Melayu Kepulauan Riau (Kepri).

Menurut Bima, Kepri memiliki keunggulan yang tidak dimiliki banyak daerah lain, yakni sejarah lahirnya bahasa Indonesia di Pulau Penyengat melalui pemikiran Raja Ali Haji.

"Kalau kami ingin menggarisbawahi satu hal, ini rasanya diferensiasi Kepri yang dahsyat, yaitu faktor sejarah. Bicara bapaknya bahasa Indonesia, Raja Ali Haji. Beliau juga penulis Gurindam Dua Belas yang mengajarkan etika pergaulan," kata Bima saat berkunjung ke Batam, Rabu.

Ia mengapresiasi langkah Pemerintah Provinsi Kepri yang berencana membangun museum bahasa di Pulau Penyengat sebagai sarana edukasi sejarah sekaligus pelestarian warisan budaya Melayu.

"Raja Ali Haji memiliki dua warisan besar, yaitu Gurindam Dua Belas dan pedoman Bahasa Indonesia. Karena itu mari kita dukung bersama agar Pulau Penyengat menjadi magnet utama di Kepri," ujarnya.

Menurut Bima, karakter Pulau Penyengat berbeda dengan Batam yang dikenal sebagai pusat perdagangan dan industri maupun Bintan yang berkembang sebagai kawasan resor wisata.

“Kalau Batam perdagangan, Bintan ada resort, tapi Pulau Penyengat rasanya berbeda. Keunggulannya terletak di nilai sejarah, budaya Melayu dan kerajaan yang sudah ada dari abad ke-19,” katanya.

Ia menekankan pembangunan kawasan tersebut harus dibarengi dengan penataan ruang yang baik agar tidak memunculkan konflik pertanahan di kemudian hari.

"Kami Kementerian Dalam Negeri dan Kementerian ATR/BPN akan mendukung agar penataan ruangnya berjalan baik sehingga tidak muncul konflik lahan maupun persoalan pertanahan lainnya," katanya.

Baca juga: Bappenas: Museum dan Monumen Tugu Bahasa bisa jadi destinasi wisata

Sementara itu, Gubernur Kepri Ansar Ahmad mengatakan Pemerintah Provinsi Kepri tengah membangun Monumen Bahasa Nasional di Pulau Penyengat di atas lahan seluas sekitar dua hektare sebagai bentuk komitmen melestarikan sejarah perkembangan bahasa Indonesia.

"Bahasa Melayu yang berkembang di Kepri inilah yang kemudian dipilih sebagai bahasa persatuan bangsa Indonesia karena sifatnya yang terbuka, mudah dipelajari, dan telah digunakan sebagai bahasa komunikasi antardaerah sejak ratusan tahun lalu," kata Ansar.

Ia menjelaskan monumen tersebut diharapkan menjadi media pembelajaran mengenai sejarah perkembangan Bahasa Indonesia sekaligus memperkuat posisi Pulau Penyengat sebagai destinasi wisata sejarah.

Groundbreaking atau peletakan batu pertama akan dilaksanakan pada Agustus mendatang, dan direncanakan akan rampung pembangunan tahun depan,” katanya.

Proyek tersebut akan dibiayai melalui skema pembiayaan non-APBD, dan akan melalui pinjaman dengan bank daerah.

Baca juga: Pemkab Tulungagung gelar lomba mendongeng Bahasa Jawa usia dini

Pewarta: Amandine Nadja
Editor: Triono Subagyo
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |