Jakarta (ANTARA) - Pada situasi yang sulit saat ini dan semakin berkurangnya pupuk bersubsidi, sangat diharapkan kemauan para petani untuk berubah.
"Jangan membakar jerami, manfaatkanlah jerami untuk pupuk. Jerami bisa ditumbuk untuk kompos atau jerami dipotong-potong saat panen lalu ditabur atau diinjak masuk tanah, karena jerami banyak mengandung unsur hara."
Setiap kali petani, pejabat pemerintahan, dan akademisi berkunjung ke Dangau Inspirasi di rumahnya, Pakar pertanian Ir. Djoni (70) – yang lebih senang disebut pekerja sosial masyarakat yang aktif di bidang pertanian berkelanjutan dan urban farming, selalu menyuarakan hal itu. Sebab dengan gagasan terbarunya, Sawah Pokok Murah, keberadaan jerami menjadi penting.
Ketika hama tanaman padi menyebabkan produksi menurun, begitu juga pupuk yang hampir selalu langka, kadang yang ada pun ternyata pupuk palsu, sudah dipastikan petani mengalami kerugian besar. Dan selama puluhan tahun, boleh dikata, petani hampir selalu mengalami kesulitan keuangan. Petani harus dibantu, dimotivasi, dan diberikan solusi.
Hasil ujicoba yang dilakukan Djoni dengan ratusan petani di kabupaten/kota di Sumatera Barat, sejak tahun 2022 lalu dengan Sawah Pokok Murah (SPM), mungkin akan menjadi solusi atas persoalan petani selama ini di Indonesia. Sekaligus jawaban bagaimana meningkatkan hasil produksi padi yang bisa menyejahterakan petani.
"Terlalu mahal jika untuk meningkatkan produksi padi, pemerintah membuat program cetak sawah baru. Cukup dengan luas sawah yang ada saat ini, dengan program Sawah Pokok Murah, banyak terjadi penghematan dan produksi bisa meningkat 100 sampai 150 persen. Ini fakta yang sudah dilakukan di sejumlah nagari –pemerintahan terendah, terdiri dari beberapa kecamatan-- di kabupaten/kota di Sumatera Barat," kata Djoni, saat ditemui di Dangau Inspirasi, kediamannya yang khusus untuk berdiskusi, di Kurao Kota Padang, belum lama ini.
Djoni memang bukan orang baru di dunia pertanian di Indonesia. Sejak 28 tahun lalu, dia menggalakkan pertanian organik dan menemukan lebih 23 agen hayati --pemberantasan hama tanaman dengan musuh alaminya, yang ramah lingkungan. Puncaknya, tahun 2002 ia mendirikan Institut Pertanian Organik di Kecamatan IV Angkek Canduang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Agen hayati dapat berupa predator, parasitoid, patogen adan agen antagonis.
Setelah sukses dengan program pertanian organik, Djoni yang mantan kepala dinas Pertanian Tanaman Pangan Sumatera Barat (2005-2015) itu menemukan formula pupuk “cikam”, yakni pupuk cirit (tahi) kambing yang mencengangkan dunia akademik dan pertanian di Indonesia.
Para petani yang mempraktikkan temuan tersebut, mengalami keuntungan yang luar biasa. Selain hasil panen meningkat, dengan peningkatan produktivitas hasil panen hingga 100 persen, harga jual pun tinggi. Penghematan biaya dari pengolahan hingga panen, bisa ditekan hingga 70 persen.
Banyak petani/kelompok tani kemudian yang belajar ke Sumatera Barat di tahun 2000-an, termasuk para pakar pertanian dan pakar ekonomi dari sejumlah perguruan tinggi, termasuk guru besar Universitas Indonesia Prof.Dr.Faisal Basri (alm).
Faisal Basri kemudian menuliskan pengalamannya tersebut dalam tulisan kolom di harian Kompas. Bahkan, tahun 2021, Menteri Pertanian masa Presiden SBY, Prof. Dr. Anton Apriantono, juga mendatangi Djoni, peraih penghargaan Kalpataru sebagai Pembina Lingkungan Hidup tahun 2009, untuk mendiskusikan banyak hal.
Setelah menemukan pupuk cikam yang organik, Djoni menggalakkan Tanam Benih Sebatang, yang juga mendapat sambutan luas. Banyak pemangkasan biaya yang bisa dilakukan untuk bercocok tanam padi sawah ini. Hasilnya di luar dugaan, produksi padi yang sebelumnya 4-5 ton gabah per hektare, meningkat menjadi 10-11 ton gabah per hektare.
Inovasi tiada henti, sepertinya sudah menjadi motto seorang Djoni. Setelah pensiun dengan golongan kepangkatan 4E, penerima Achievement Bidang Teknologi Pertanian Pangan tahun 2021 dari Universitas Andalas Padang ini membuat “Dangau Inspirasi” di rumahnya dengan luas lahan sekira 1,5 hektare, yang dikelilingi areal persawahan yang luas di Kurao Pagang, Kecamatan Nanggalo, Kota Padang.
Tak henti-hentinya para petani dan kelompok tani, serta akademisi, wakil rakyat datang untuk bertanya tentang masalah di lapangan dan bagaimana solusinya. Tak lupa menanyakan apa temuan dan inovasi baru yang bisa dikembangkan.
Penemuan terakhir Djoni dua tahun lalu adalah teknik pengawetan cabai giling dalam kolam, yang tidak mengubah rasa dan warna walau direndam dalam kolam hingga selama 12 bulan. “Hasil penelitian tentang pengawetan cabai giling itu menjadi inspirasi mahasiswa calon doktor di Jepang,” katanya.
“Jika disimpan di kulkas hanya bisa dua bulan dan setelah itu bercendawan/jamur, maka sampel cabai giling yang sama disimpan dalam kolam bisa tahan dan awet hingga sampai 12 bulan. Banyak yang menamatkan pendidikan S-2 dan S-3 dengan penelitian cabai dalam kolam ini, baik di Jepang dan Indonesia,” jelas Djoni.
Djoni melakukan hal itu hanya sebagai solusi pada saat harga cabai murah. Dari pada cabai tidak dipanen dan membusuk, lebih baik dibuat cabai giling dan diawetkan dalam kolam dalam kondisi dibungkus plastik yang diberi pemberat agar terbenam.
Hasil penelitian itu pun sudah banyak yang mempraktikkan, kala harga cabai jatuh dan petani rugi. Dengan pengawetan cabai giling dalam kolam, kerugian petani bisa dihindari.
Kembali ke Sawah Pokok Murah. Gambaran Sawah Pokok Murah ini sebagai berikut. Usai panen, jerami dibiarkan melapuk dan tidak dibakar. Sawah bisa langsung diolah hanya dengan membuat saluran air dan tanahnya ditaruh di bedeng-bedeng. Penyemaian bibit untuk benih bisa langsung dilakukan. Ketika benih siap tanam dengan program benih sebatang, maka tak perlu waktu lama seperti proses pengolahan sawah pola membajak/mencangkul/merancah dan baru tanam.
Ketika air tidak menggenangi pangkal tanaman padi, maka tanaman padi tak disentuh hama keong emas, hama penggerek batang, dan juga wereng. Di jerami laba-laba berkembang biak yang menjadi predator hama wereng. Siput tak mungkin hidup tanpa air. Sehingga kalau ada siput, ia hanya berada di saluran air saja.
“Hama tikus, hama putih, dan pianggang selama ini mengkhawatirkan, pun dengan metoda Sawah Pokok Murah bisa ditekan,” jelas Djoni, yang aktif mengembangkan Sawah Pokok Murah di Sumatera Barat, tahun 2022 sampai sekarang.
Penulis sempat mengecek langsung program SPM yang dipraktikkan oleh petani di Nagari Sungai Gayo Lumpo, Kabupaten Pesisir Selatan, sekira 75 km selatan Kota Padang.
Seluas 100 hektare dari 200 hektare di Nagari Sungai Gayo Lumpo sudah mengembangkan SPM.
“Dari benih sebatang, berkembang rumpun padi menjadi 56 batang. Hama yang merusak tanaman padi pun berkurang drastis. Hasil panen bisa naik 100 persen bahkan lebih, sampai 200 persen,” kata ibu Darmini (75), petani di Nagari Sungai Gayo Lumpo, Kecamatan IV Jurai, Kabupaten Pesisir Selatan.
Dia menjelaskan, di areal seluas 2,5 x 2,5 meter menghasilkan panen 7,6 kg gabah. Atau setiap hektar bisa menghasilkan gabah sekira 12 ton. Hasil panen program Sawah Pokok Murah ini jauh meningkat mencapai 11-12 ton, dibanding cara konvensional sebelumnya yang hanya menghasilkan 4-5 ton per hektare.
Darmini didampingi adiknya Dalwardi (54) yang juga petani sawah mengatakan, dengan Sawah Pokok Murah, banyak penghematan yang bisa dilakukan. Ia bercerita, dulu bercocok padi sawah dengan program konvensional, ia memerlukan tiga alat bajak dengan sewa Rp400.000 per hari. Pemakaian pupuk kimia (anorganik) pun dikurangi menjadi sepertiga, sehingga 100 kg pupuk setara sekitar Rp400.000 dan pestisida menghasilkan Rp200.000, bisa ditiadakan. Tak dibutuhkan lagi.
Melihat hasil nyata SPM yang dipraktikkan Darmini, kini sebanyak 85 KK dengan 5 kelompok tani, sudah menjalankan program SPM yang terus dipantau dan dibimbing Djoni. Dan untuk mendukung program SPM, Wali Nagari Sungai Gayo Lumpo telah menganggarkan 20 persen (atau Rp180 juta) dari Dana Desa tahun 2025 untuk mendukung program SPM.
Menurut Djoni, dengan program SPM, petani yang sebelumnya hanya dua kali panen dalam setahun, kini sudah bisa panen tiga kali setahun, dengan usia panen 105 hari.
Jadi, dari praktik SPM, manfaat yang dirasakan petani adalah mudah dalam pengolahan, murah dalam biaya, hemat tenaga kerja, hasil panen unggul, tanah semakin subur, dan ramah lingkungan. Petani pun menikmati hasil panen yang membuatnya hidup lebih sejahtera.
Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Alex Indra Lukman, akhir Januari 2025 lalu, sempat melihat langsung dan berdialog dengan para petani/kelompok tani di Nagari Sungai Gayo Lumpo, Kabupaten Pesisir Selatan tersebut.
“Metode Sawah Pokok Murah ini harus jadi program prioritas Kementerian Pertanian, karena menciptakan intensifikasi lahan dalam kerangka terwujudnya swasembada pangan yang jadi skala prioritas Asta Cita Presiden Prabowo Subianto,” tuturnya.
Mantan Gubernur Sumatera Barat Irwan Prayitno mengakui bahwa selama 5 tahun berinteraksi dengan Djoni, dia menjadi tahu perihal ilmu pertanian, cara dan strategi meningkatkan pendapatan petani. “Strategi GPP (gerakan pensejahteraan petani) adalah sebuah terobosan untuk mengatasi lingkaran setan masalah petani yang digagas Djoni,” katanya.
Irwan Prayitno mengakui, Djoni semasa menjadi PNS/ASN aktif telah meninggalkan banyak kenangan dan terobosan dalam meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani Sumatera Barat.
"Beliau orang pertama dan satu-satunya PNS yang pensiun 60 tahun dengan perpanjangan langsung 4 tahun dan pensiun dengan golongan 4E. Ini karena profesionalitas dan kinerjanya. Ratusan kali saya ke pelosok-pelosok menemui petani bersama Djoni," kata Irwan.
*) Yurnaldi adalah wartawan senior/wartawan utama. Tinggal di Padang, Sumatera Barat.
Copyright © ANTARA 2025