Jakarta (ANTARA) - Pemerintah meraup dana senilai Rp30 triliun dari lelang Surat Utang Negara (SUN) pada 18 Februari 2025.
Direktorat Jenderal Pembiayaan dan Pengelolaan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) dalam keterangannya di Jakarta, Selasa, menyatakan penawaran masuk pada lelang kali ini mencapai Rp84 triliun.
Dari delapan seri SUN yang dilelang, Pemerintah hanya menyerap dana dari tujuh seri, di antaranya SPN12260205 (pembukaan kembali), FR0104 (pembukaan kembali), FR0103 (pembukaan kembali), FR0106 (pembukaan kembali), FR0107 (pembukaan kembali), FR0102 (pembukaan kembali), dan FR0105 (pembukaan kembali).
Sementara untuk seri SPN03250521 (penerbitan baru), Pemerintah memutuskan untuk tidak menyerap dana meski menerima penawaran masuk Rp1,57 triliun.
Serapan tertinggi berasal dari seri FR0103 yang dimenangkan senilai Rp9,5 triliun, dengan imbal hasil (yield) rata-rata tertimbang yang dimenangkan 6,78438 persen.
Jumlah penawaran masuk untuk seri yang jatuh tempo pada 15 Juli 2035 mencapai Rp21,33 triliun, dengan imbal hasil terendah yang masuk 6,75 persen dan imbal hasil tertinggi 6,95 persen.
Untuk seri FR0104, jumlah nominal yang dimenangkan mencapai Rp8,65 triliun, dengan imbal hasil rata-rata tertimbang 6,54998 persen.
Jumlah penawaran masuk untuk seri yang jatuh tempo pada 15 Juli 2030 mencapai Rp37,33 triliun, dengan imbal hasil terendah masuk 6,5 persen dan imbal hasil tertinggi 6,7 persen.
Untuk seri FR0106, jumlah nominal yang dimenangkan mencapai Rp3,8 triliun, dengan imbal hasil rata-rata tertimbang 6,98972 persen.
Jumlah penawaran masuk untuk seri yang jatuh tempo pada 15 Agustus 2040 mencapai Rp8,36 triliun, dengan imbal hasil terendah masuk 6,94 persen dan imbal hasil tertinggi 7,13 persen.
Untuk seri FR0107 dan FR0105, Pemerintah memutuskan untuk memenangkan dengan nominal yang sama yaitu Rp2,7 triliun, dengan imbal hasil rata-rata tertimbang masing-masing yaitu 7,02966 persen dan 7,11980 persen.
Jumlah penawaran masuk untuk seri FR0107 yang jatuh tempo pada 15 Agustus 2045 mencapai Rp5,8 triliun, dengan imbal hasil terendah masuk 6,97 persen dan imbal hasil tertinggi 7,11 persen.
Sementara jumlah penawaran masuk untuk seri FR0105 yang jatuh tempo pada 15 Juli 2064 mencapai Rp2,97 triliun, dengan imbal hasil terendah masuk 7,03 persen dan imbal hasil tertinggi 7,25 persen.
Untuk seri SPN12260205, jumlah nominal yang dimenangkan mencapai Rp2 triliun, dengan imbal hasil rata-rata tertimbang 6,25000 persen.
Jumlah penawaran masuk untuk seri yang jatuh tempo pada 6 Februari 2026 mencapai Rp5,02 triliun, dengan imbal hasil terendah masuk 6,25 persen dan imbal hasil tertinggi 6,4 persen.
Terakhir, untuk seri FR0102, dimenangkan dana sebesar Rp650 miliar dengan imbal hasil rata-rata tertimbang 7,03907 persen.
Jumlah penawaran masuk untuk seri yang jatuh tempo pada 15 Juli 2054 mencapai Rp1,62 triliun, dengan imbal hasil terendah masuk 6,99 persen dan imbal hasil tertinggi 7,09 persen.
Pewarta: Imamatul Silfia
Editor: Zaenal Abidin
Copyright © ANTARA 2025