Menpar: Jakarta berperan penting bentuk kesan pertama Indonesia

1 week ago 5

Jakarta (ANTARA) - Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana mengatakan bahwa Kota Jakarta berperan penting dalam membentuk kesan pertama para wisatawan terhadap Indonesia selama masa berkunjungnya.

“Sebagai salah satu gerbang utama bagi wisatawan mancanegara, Jakarta memiliki peran penting dalam memberikan kesan pertama tentang Indonesia,” kata Widiyanti dalam konferensi pers “Wisdom in the Old Town: A Lunar Celebration” di Jakarta, Senin.

Widiyanti mengatakan Kota Jakarta telah melalui perjalanan panjang dari masa ke masa. Perkembangan yang terjadi tidak hanya meliputi perubahan nama hingga status wilayah, tetapi juga perkembangan di seluruh aspek kehidupan masyarakat, termasuk akses transportasi yang semakin maju dan terintegrasi.

Baca juga: Gerakan Wisata Bersih di Kota Tua Jakarta libatkan 1.300 personil

Dengan mudahnya akses menuju destinasi wisata itu, Kementerian Pariwisata bersama Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memperkuat komitmen untuk merevitalisasi Kota Tua sebagai lokasi bersejarah serta pusat seni dan budaya yang dinamis.

Salah satunya dengan menggelar pagelaran busana dan perhiasan bertajuk “Wisdom in the Old Town: A Lunar Celebration”, yang memadukan tradisi Tahun Baru Imlek dengan elemen modern dari dunia fesyen berlatarkan Kota Tua.

Adapun desainer yang terlibat yakni Adrian Gan, Sebastian Gunawan, dan Rinaldy Yunardi, yang terinspirasi oleh budaya Tionghoa dan keindahan warisan Nusantara.

Baca juga: Menpar: Target Kemenpar tidak berubah meski ada efisiensi anggaran

“Dengan menjadikan acara ini sebagai platform kolaborasi, kami percaya bahwa kemitraan strategis akan memberikan dampak positif yang berkelanjutan bagi industri pariwisata, seni, dan budaya Indonesia,” kata Menpar Widiyanti.

Selain dari sisi acara, pemerintah berupaya membentuk citra Indonesia sebagai negara yang menghargai budaya dan keberagaman melalui dipilihnya House of Tugu sebagai lokasi pagelaran itu.

Hal yang ditekankan dari lokasi itu adalah sejarah House of Tugu yang dulunya merupakan milik saudagar Tioghoa bernama Oei Tiong Ham, yang di dalamnya terdapat benda-benda peninggalan sejarah yang memperlihatkan keberagaman budaya Batavia.

Baca juga: Kemenpar pelajari tren wisata untuk tingkatkan pendapatan negara

Kini House of Tugu telah menjadi daya tarik wisatawan tersendiri dan berkontribusi mendorong minat wisatawan untuk berkunjung ke daerah Kota Tua, Jakarta.

Menurut Menpar, sejarah itu merupakan bukti bahwa Indonesia adalah negara yang kaya akan keanekaragaman budaya, termasuk pengaruh budaya Tionghoa yang telah menjadi bagian integral dari sejarah dan masyarakat sejak masa Hindia Belanda.

“Melestarikan warisan budaya Tionghoa bukan hanya soal menjaga nilai sejarahnya, tetapi juga mengakui peran pentingnya dalam membentuk identitas budaya Indonesia dan sektor pariwisata kita,” ucap Widiyanti.

Baca juga: Kemenpar sukses jaga pertumbuhan wisatawan dalam 100 hari kerja

Upaya lain yang dilakukan pemerintah yakni mengerjakan proyek pembangunan MRT Jakarta Fase 2A yang menghubungkan Bundaran HI hingga Stasiun Kota.

Hal ini menjadikan prospek pengembangan kawasan Kota Tua semakin baik. Proyek ini pun terbagi menjadi dua segmen yaitu Bundaran HI-Harmoni yang ditargetkan selesai pada 2027 dan Harmoni-Kota yang ditargetkan selesai pada 2029.

“Tahun 2027 sekaligus menjadi momen perayaan 500 tahun usia Kota Jakarta. Memasuki abad ke-5 usia kota ini, Jakarta memperlihatkan perkembangan yang begitu pesat, dan masih menjadi pusat perekonomian sekaligus daya tarik pariwisata Indonesia, utamanya bagi masyarakat urban,” kata Menpar.

Baca juga: Menpar tegaskan pendidikan dan budaya aspek penting pariwisata

Pewarta: Hreeloita Dharma Shanti
Editor: Siti Zulaikha
Copyright © ANTARA 2025

Read Entire Article
Rakyat news | | | |