Menag tekankan kurikulum berbasis ekoteologi di pendidikan keagamaan

1 hour ago 1

Bandung (ANTARA) - Menteri Agama, Nasaruddin Umar, menekankan pentingnya penguatan kurikulum pendidikan keagamaan berbasis ekoteologi yang menekankan hubungan manusia, alam, dan Tuhan secara utuh dalam satu kesadaran nilai.

Nasaruddin Umar dalam kunjungannya di Bandung, Jabar, Selasa, menjelaskan bahwa konsep spiritual tersebut dapat membangun relasi saling mencintai antara manusia dan sesama, alam semesta, serta Tuhan sebagai satu kesatuan yang tidak terpisahkan.

“Ekoteologi itu kesadaran yang harus muncul pada diri setiap orang untuk mencintai sesama manusia, mencintai alam semesta, dan pada saat yang sama manusia dan alam juga mencintai Tuhannya. Ini seperti cinta segitiga,” ujarnya saat mengunjungi Pondok Pesantren Al-Qur'an Al-Falah Cicalengka.

Dirinya menjelaskan bahwa pendekatan tersebut penting agar manusia tidak memandang alam sekadar objek eksploitasi, melainkan bagian dari keseimbangan sistem kehidupan yang harus dijaga.

“Kalau tidak ada cinta, alam ini hanya akan dianggap objek. Akhirnya yang terjadi hanya eksploitasi tanpa memikirkan dampaknya,” katanya.

Ia mencontohkan bahwa kerusakan lingkungan dapat berdampak luas terhadap keseimbangan ekosistem, termasuk hilangnya keanekaragaman hayati dan terganggunya rantai kehidupan di alam.

“Kalau hutan ditebang tanpa kontrol, maka ekosistem bisa rusak, hewan hilang, dan keseimbangan alam terganggu,” ujarnya.

Dalam konteks pendidikan keagamaan, ia menyoroti bahwa pembelajaran ekoteologi sering kali belum tersampaikan secara utuh sehingga makna mendalam terpotong dalam proses pembelajaran.

Ia juga menekankan pentingnya kesinambungan pendidikan keagamaan di pesantren, khususnya dari jenjang Madrasah Tsanawiyah hingga Madrasah Aliyah, agar pemahaman tidak berhenti pada tahap dasar.

Menurutnya, setelah materi dipelajari di tingkat Tsanawiyah, seharusnya dilanjutkan secara lebih mendalam di Aliyah tanpa pengulangan materi yang sama, melainkan pengembangan pada aspek analisis dan pemaknaan lanjutan.

“Kalau perlu jangan diulang lagi di Aliyah, tapi dilanjutkan saja supaya bagian yang lebih dalam dari kitab itu bisa tuntas dipahami,” ujarnya.

Pada kesempatan tersebut, Nasaruddin Umar menambahkan bahwa kitab kuning juga harus dipahami secara utuh di pesantren, tidak hanya berhenti pada bagian awal pembelajaran.

“Kita lihat, misalnya kitab kuning hadis seperti Shahih Muslim, bagian awal biasanya dipelajari, tetapi bagian akhirnya tidak sampai tuntas. Padahal di bagian akhir itu ada dimensi yang sangat spiritual,” katanya.

Ia menegaskan bahwa penguatan kurikulum berbasis ekoteologi dan kesinambungan pembelajaran pesantren diharapkan mampu melahirkan generasi yang lebih utuh dalam memahami agama sekaligus memiliki kesadaran ekologis yang kuat.

Baca juga: Menag ajak pesantren terus berbenah respons tantangan zaman

Baca juga: Menag ingatkan pejabat waspadai gratifikasi berkedok hadiah

Pewarta: Ilham Nugraha
Editor: Triono Subagyo
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |