Kemenkes sebut dunia sedang hadapi tantangan tripledemic

1 week ago 15

Jakarta (ANTARA) - Kementerian Kesehatan menyebut saat ini dunia sedang menghadapi tantangan berupa tripledemic atau fenomena ketika virus Respiratory Synctial Virus (RSV), COVID-19, dan influenza bersirkulasi secara bersamaan.

“Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), saat ini dunia kesehatan menghadapi tantangan besar. Pandemi COVID-19 telah memberikan dampak luar biasa terhadap sistem kesehatan global, tetapi ancaman lain yang tak kalah serius juga muncul yaitu tripledemic,” kata Direktur Penyakit Menular Kemenkes dr. Ina Agustina Isturini, MKM dalam temu media di Jakarta, Rabu.

Ina membeberkan berdasarkan data global, tripledemic telah menyebabkan 8,7 juta infeksi. Di mana salah satu virus yang perlu diwaspadai adalah RSV.

Hal itu disebabkan karena penyakit yang biasa dianggap sebagai penyakit bagi anak itu, dapat berbahaya pada populasi usia dewasa, khususnya lansia dan individu dengan penyakit penyerta seperti jantung, diabetes, dan penyakit paru obstruktif kronis.

Baca juga: Kemenkes ajak penyintas kanker sebarkan edukasi tentang deteksi dini

Baca juga: Kemenkes lakukan evaluasi harian untuk perbaiki kualitas CKG

Dalam menghadapi tripledemic, hal yang dikhawatirkan adalah kondisi lansia di Indonesia. Kini, penduduk sudah mencapai 279 juta jiwa, dengan peningkatan penduduk sekitar 2,7 juta jiwa per tahun.

Jumlah penduduk lansia sendiri pada tahun 2030 diproyeksikan ada sekitar 14,6 persen. Sementara pada tahun 2045 mencapai hampir seperlima dari total penduduk yang ada.

“Tentu yang harus kita waspadai bahwa 20 persen lansia Indonesia tersebut dapat mengalami penyakit kronis seperti penyakit jantung, paru dan membuat mereka lebih rentan terhadap infeksi penapasan,” ujar Ina.

Hal lain yang dikhawatirkan kementerian, katanya adalah adanya beban pada biaya berobat yang berdampak pada perekonomian bangsa. Beban kesehatan akibat infeksi penapasan sangatlah tinggi.

“Dengan populasi lansia Indonesia yang terus meningkat, potensi beban kesehatan dan ekonomi akibat infeksi saluran pernapasan akut pada lansia perlu menjadi perhatian serius,” ucapnya.

Baca juga: Kemenkes siapkan deteksi lima jenis kanker pada Cek Kesehatan Gratis

Baca juga: Dokter: Hotline kanker penting guna dukung semangat penyembuhan

Biaya pengobatan untuk pasien dengan infeksi penapasan berat bisa mencapai Rp70-200 juta per pasien terutama bagi mereka yang memerlukan peralatan ICU.

Ina menilai masyarakat Indonesia telah betul-betul memahami bagaimana virus yang menyerang saluran pernapasan bisa berdampak berat terutama pada kelompok berisiko seperti lansia dan pasien dengan penyakit kronis pada saat pandemi COVID-19.

Menurutnya, cara untuk mencegah penularan RSV dan penyakit pernapasan lainnya dapat dilakukan melalui upaya preventif dan promotif, terutama pada kelompok berisiko tinggi.

“Dalam platform Satu Sehat kami, individu dapat dengan mudah mengakses informasi terkini mengenai penyakit infeksi menular dan upaya-upaya untuk pencegahannya,” ucap Ina.

Project Management Office (PMO) dari Ditjen P2P Kemenkes Dr. Alfinella Izhar Iswandi, MPH menambahkan bahwa pada tahun 2018 hingga 2022, pembiayaan meningkat secara signifikan terhadap penyakit pernapasan dan trennya cenderung naik setiap tahunnya.

Berdasarkan data milik BPJS di tahun 2023, penyakit pneumonia telah menghabiskan biaya sebesar Rp8,7 triliun, Tuberkulosis (Tb) Rp5,2 triliun, Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) Rp1,8 triliun, asma Rp1,4 triliun, dan kanker paru Rp766 miliar.

Baca juga: Kemenkes soroti pentingnya digitalisasi sektor kesehatan

Baca juga: Kemenkes: Ke depan tidak akan ada lagi RS tipe D

Baca juga: Kendalikan faktor risiko guna bangun sistem kesehatan berkelanjutan

Pewarta: Hreeloita Dharma Shanti
Editor: Mahmudah
Copyright © ANTARA 2025

Read Entire Article
Rakyat news | | | |