Banda Aceh (ANTARA) - Jaksa eksekutor Kejaksaan Negeri (Kejari) Aceh Timur mengeksekusi dua terpidana judi (maisir-red) yang perkaranya telah memiliki kekuatan hukum tetap atau inkrah berdasarkan putusan Mahkamah Syariah Idi, Kabupaten Aceh Timur.
Pelaksanaan hukuman cambuk berlangsung secara terbuka di halaman Kantor Satpol Pamong Praja dan Wilayatul Hisbah Kabupaten Aceh Timur di Idi, ibu kota Kabupaten Aceh Timur, Kamis.
Kedua terpidana yang menjalani hukuman cambuk yakni Abdullah dan M Dedi. Terpidana Abdullah dihukum 10 kali cambuk dan dikurangi masa penahanan yang dikonversi dengan empat kali cambuk.
Sedangkan terpidana M Dedi diputuskan bersalah dengan hukuman 12 kali cambuk dan dikurangi masa penahanan dengan tiga kali cambuk, sehingga hukuman yang dijalankan hanya sembilan kali cambuk.
Kepala Seksi Tindak Pidana Umum Kejari Aceh Timur Muhajir mengatakan kedua terpidana diputuskan bersalah melakukan jarimah maisir atau tindak pidana perjudian berdasarkan putusan Mahkamah Syariah Idi
"Eksekusi cambuk terhadap keduanya merupakan perintah majelis hakim Mahkamah Syariah Idi. Keduanya dinyatakan bersalah sebagaimana diatur Pasal 18 Qanun Aceh Nomor 6 Tahun 2014 tentang hukum jinayat," kata Muhajir.
Ia mengatakan pelaksanaan uqubat cambuk dilakukan di depan umum. Tujuannya untuk memberikan efek jera terhadap terpidana dengan harapan tidak mengulanginya serta menjadi pembelajaran bagi masyarakat untuk tidak mencontohnya.
Sementara itu, Wakil Ketua MPU Aceh Timur Muhibuddin dalam tausiahnya pada eksekusi cambuk tersebut mengatakan taubat seseorang adalah jalan kembali kepada Allah SWT atas segala dosa yang telah diperbuatnya.
"Setiap manusia tidak luput dari kesalahan. Akan tetapi, Allah SWT Maha Pengampun bagi hamba-Nya yang benar-benar bertaubat dengan tulus," kata Muhibuddin yang akrab disapa Waled Muhib.
Waled Muhib mengharapkan hukuman cambuk tersebut menjadi pelajaran dan awal perubahan menuju kehidupan yang lebih baik sesuai ajaran Islam bagi kedua terpidana.
"Kami mengingatkan masyarakat tidak berbuat dosa serta menjunjung tinggi pelaksana syariat Islam. apalagi di depan mata ada ibadah Ramadhan, maka sudah seharusnya tidak berkekalan dengan dosa kecil dan menjauhkan dosa-dosa besar," kata Waled Muhib.
Pewarta: M.Haris Setiady Agus
Editor: Azhari
Copyright © ANTARA 2025