Jakarta (ANTARA) - Anggota Komisi III DPR RI Nasyirul Falah Amru atau Gus Falah mengajak seluruh pihak menghidupkan semangat toleransi dan penghormatan terhadap multikulturalisme.
Dalam acara Haul ke-13 Taufiq Kiemas di Jakarta, Senin (8/6), Gus Falah menilai gagasan dan semangat Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI periode 2009–2013 itu masih relevan bagi kehidupan masyarakat Indonesia yang majemuk.
“Setiap tahun, spirit ajaran almarhum Bapak Taufiq Kiemas sengaja terus kami hidupkan melalui acara haul seperti ini,” kata Gus Falah dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Selasa.
Gus Falah menyebut Taufiq Kiemas meninggalkan sejumlah warisan pemikiran saat menjabat Ketua MPR RI, antara lain sosialisasi Empat Pilar MPR RI, penguatan pemahaman sejarah lahirnya Pancasila pada 1 Juni, serta gagasan kebangsaan melalui berbagai kegiatan kenegaraan.
Baca juga: Jimly Asshiddiqie kenang lima legasi Taufiq Kiemas pada haul ke-12
Selain itu, Taufiq Kiemas juga disebut meninggalkan jejak melalui pendirian Masjid At-Taufiq di depan Sekolah Partai Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI Perjuangan).
Ia menilai warisan pemikiran tersebut penting terus disampaikan kepada generasi muda agar tidak melupakan sejarah bangsa. Gus Falah juga menekankan bahwa banyak negara besar dibangun melalui narasi sejarah para pendiri bangsa.
Dalam konteks kebinekaan Indonesia, Gus Falah menggambarkan Taufiq Kiemas sebagai sosok yang memiliki peran pemersatu, bahkan dianalogikan seperti tokoh Bisma dalam pewayangan.
Ia merujuk pada tulisan akademisi Melisa Florence Schillevoort yang menganalisis karakter Bisma sebagai tokoh yang memilih tidak berkuasa demi mencegah perpecahan dan menjaga keutuhan negara.
“Semoga saya tidak berlebihan menggambarkan sosok almarhum Taufiq Kiemas dengan Bisma,” ujar Gus Falah.
Baca juga: PP Bamusi PDIP peringati haul ke-12 Taufiq Kiemas di TMP Kalibata
Ia mengajak masyarakat meneladani jejak Taufiq Kiemas yang dikenal sebagai tokoh nasionalis yang mengedepankan persatuan serta menjaga Pancasila sebagai ideologi bangsa.
Sementara itu, Ketua DPP PDI Perjuangan Ahmad Basarah mengatakan salah satu narasumber dalam acara tersebut, Prof Idris Thaha, mengaku terkesan dengan keberadaan Masjid At-Taufiq.
Menurut Basarah, Idris menilai keberadaan masjid tersebut memperkuat pandangan bahwa PDI Perjuangan bukan partai yang anti-Islam maupun partai komunis seperti yang kerap dituduhkan.
“Keberadaan masjid ini menambah keyakinan beliau bahwa PDI Perjuangan bukan partai anti-Islam, bukan partai komunis seperti yang dituduhkan, tetapi partai yang mengakomodasi Islam,” kata Basarah.
Basarah menuturkan ia mengenal Idris sejak 2018 ketika yang bersangkutan tengah menyusun disertasi mengenai Islam dan PDI Perjuangan.
Dalam disertasinya, Idris disebut menyimpulkan bahwa PDI Perjuangan mendukung kepentingan umat Islam, termasuk melalui dukungan terhadap sejumlah rancangan undang-undang seperti RUU Pesantren.
Baca juga: Megawati Soekarnoputri nyekar ke makam Taufiq Kiemas dan Fatmawati
Pewarta: Agatha Olivia Victoria
Editor: Abdul Hakim
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































