Jakarta (ANTARA) - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebut terdapat sejumlah tantangan dalam implementasi bahan bakar biodiesel 40 persen (B40), salah satunya keterbatasan tempat penyimpanan.
Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (Dirjen EBTKE) Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi mengatakan bahan bakar dengan komposisi 40 persen minyak kelapa sawit dan 60 persen solar ini, sudah diimplementasikan mulai 1 Januari 2025.
"Memang keterbatasan kemampuan produksi dan saat ini sudah kita berhitung untuk seluruh Badan Usaha Bahan Bakar Nabati yang sebanyak 28 perusahaan itu mempunyai capacity factor yang tinggi. Jadi pabriknya hampir penuh, sekitar 80 persen bergerak untuk memenuhi B40," ujar Eniya di Jakarta, Selasa.
Selain faktor penyimpanan, lanjut Eniya, tantangan lain yang juga dihadapi adalah keterlambatan pada moda transportasi.
"Saat ini kita bisa mengidentifikasi mungkin moda transportasi yang kadang-kadang kapal terlambat satu hari, karena lokasi penyimpanannya juga harus bertambah 5 persen dari sebelumnya yang B35 dan itu sedang disesuaikan," katanya.
Kementerian ESDM memberikan kelonggaran untuk penyelesaian kendala-kendala tersebut hingga 28 Februari 2025. Eniya menyebut pihaknya sudah melakukan kesepakatan bersama badan usaha nabati maupun minyak untuk segera menyelesaikan tantangan di lapangan.
Selain itu, pihaknya juga sedang bernegosiasi dengan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) terkait penambahan dana guna mengawasi implementasi program B40.
"Saat ini memang karena ada efisiensi anggaran pengawasan, kita sedang upayakan negosiasi untuk dilakukan pendanaan tambahan dari BPDPKS untuk bisa melakukan pengawasan bersama," jelas Eniya.
Sebelumnya, Kementerian ESDM menyatakan hingga 14 Februari sudah menyalurkan 1,2 juta kiloliter (kl) biodiesel tipe 40 (B40) yang diwajibkan (mandatory) penggunaannya sejak 1 Januari 2025.
Untuk kewajiban penggunaan B40 tersebut, pada tahun 2025 ditargetkan bisa menyalurkan bahan bakar kendaraan ramah lingkungan itu sebesar 15,6 juta kiloliter yang diharapkan dapat menurunkan emisi karbon sebanyak 41 juta ton.
Lebih lanjut, Kementerian ESDM saat ini sedang melakukan uji coba B50 yang nantinya akan dilakukan uji layak jalan dengan pengusaha industri otomotif di tanah air.
Baca juga: ESDM catat salurkan 1,2 juta kiloliter B40 setelah 45 hari diwajibkan
Baca juga: Kementerian ESDM perketat pengawasan untuk implementasi B40
Baca juga: Pertamina Patra Niaga mulai salurkan biodiesel B40
Pewarta: Maria Cicilia Galuh Prayudhia
Editor: Biqwanto Situmorang
Copyright © ANTARA 2025